Listrik Indonesia | Ketua Dewan Pakar Majalah Listrik Indonesia, Herman Darnel Ibrahim atau yang akrab disapa HDI, mengingatkan bahwa pengembangan biomassa di Indonesia tidak bisa dilakukan secara instan. Menurutnya, semua pihak harus melakukan kajian serius agar energi ini benar-benar memberi kontribusi bagi target net zero emission 2060.
“Ya saya berharap memang ada langkah-langkah yang lebih konkret dari masyarakat biomassa ini untuk lebih mendalami. Kita kira-kira nanti dengan studi ya, dilakukan studi, kita akan mengembangkan jenis biomassa apa, misalnya apakah pelet biomassa, biofuel, bioetanol, atau mungkin dari sampah sawit,” kata HDI dalam perayaan HUT ke-5 MEBI yang dikemas lewat Turnamen Golf Charity 2025 di Permata Sentul Golf Club, Bogor, Minggu (28/9/2025).
Di sela acara, HDI juga menilai perayaan MEBI berlangsung meriah dan penuh kebersamaan. “Saya sampaikan selamat kepada ketua umum MEBI, pengurus, dan para sponsor yang mendukung acara ini. Dengan kegiatan seperti ini, semoga semangat dan kedekatan antar pelaku energi biomassa makin meningkat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa golf charity bukan hanya ajang olahraga, melainkan juga ruang untuk memperkuat jejaring. Menurutnya, kolaborasi semacam ini bisa mendorong percepatan pengembangan energi terbarukan, khususnya biomassa.
Tantangan Kajian
Lebih jauh, HDI mengingatkan bahwa biomassa memiliki ragam jenis, mulai dari pelet, biodiesel, bioetanol, hingga pemanfaatan limbah biomassa. Karena itu, menurutnya, dibutuhkan studi mendalam untuk menentukan jenis yang paling sesuai bagi kebutuhan energi nasional.
“Pertanyaan yang harus dijawab adalah jenis biomassa apa yang akan dipilih, tanaman apa yang ditanam, spesifikasi lahan seperti apa, lokasinya di mana, dan luas yang dibutuhkan. Semua itu harus dikaji agar penyediaannya bisa berkelanjutan,” tegasnya.
Dalam kebijakan energi nasional, biomassa bersama energi surya diproyeksikan menjadi andalan menuju net zero emission. Namun, HDI menilai keberlanjutan penyediaan biomassa masih menjadi tantangan besar.
“Karena biomassa diproduksi, maka menjaga sustainability-nya akan menjadi isu utama. Saya sarankan MEBI bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan strategis tersebut,” jelasnya.
Selain aspek teknis, ia juga menekankan pentingnya kajian biaya dan regulasi. Menurutnya, perlu ada perhitungan detail terkait harga biomassa, baik dalam bentuk listrik maupun bahan bakar.
“Kita harus menghitung levelized cost of electricity untuk biomassa. Misalnya harga pelet per ton, biofuel per kiloliter, semua itu harus diproyeksikan. Selain itu, regulasi yang mendukung juga harus disiapkan agar target biomassa dalam bauran energi 2060 bisa tercapai,” tuturnya.
Oleh karena itu, HDI berharap MEBI semakin eksis dan mampu merumuskan langkah konkret bersama pemerintah serta para pelaku industri. Dengan begitu, biomassa benar-benar bisa menjadi energi masa depan Indonesia.