Setelah Batu Bara, Kini Pemerintah Genjot Hilirisasi Migas

Selasa, 11 November 2025 | 11:08:16 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia meresmikan pabrik petrokimia New Ethylene Project milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Kamis (6/11). (Dok: KESDM)

Listrik Indonesia | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa pemerintah mulai memperluas agenda hilirisasi ke sektor minyak dan gas bumi (migas). Hal itu ia sampaikan saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto meresmikan pabrik petrokimia New Ethylene Project milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Kamis (6/11).

Menurut Bahlil, keberadaan pabrik ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam memperkuat rantai industri migas nasional. Ia menjelaskan bahwa fasilitas tersebut mampu menghasilkan nilai hilirisasi hingga USD2 miliar per tahun, terdiri atas USD1,4 miliar pengganti impor dan USD600 juta potensi tambahan ekspor.

“Dari total kapasitas produksinya, sekitar 70 persen akan dipasarkan di dalam negeri dan 30 persen untuk ekspor. Jadi selama ini kita impor, dengan pabrik ini kebutuhan itu bisa dikurangi secara signifikan,” kata Bahlil.

Proyek dengan nilai investasi sekitar USD3,9 miliar itu menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah di sektor energi. Fasilitas New Ethylene Project memiliki kemampuan mengolah naphtha sebesar 3.200 kiloton per tahun (kTA), dengan tambahan bahan baku LPG hingga 50 persen. Dari proses tersebut, dihasilkan sejumlah produk hulu seperti ethylene (1.000 kTA), propylene (520 kTA), mixed C4 (320 kTA), pyrolysis gasoline (675 kTA), pyrolysis fuel oil (26 kTA), dan hidrogen (45 kTA).

Selain produk hulu, pabrik ini juga menghasilkan berbagai produk hilir petrokimia, di antaranya high density polyethylene (HDPE) sebanyak 250 kTA, linear low density polyethylene (LLDPE) sebanyak 200 kTA, polypropylene (PP) sebanyak 350 kTA, butadiene sebanyak 140 kTA, raffinate sebanyak 180 kTA, serta benzene, toluene, dan xylene (BTX) dengan total kapasitas 400 kTA.

Produk-produk tersebut akan digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, seperti pembuatan botol plastik, kabel, bumper kendaraan, alat kesehatan, ban, karet sintetis, pembasmi serangga, hingga cat.

Menurut Bahlil, proyek ini menunjukkan bahwa arah kebijakan hilirisasi pemerintah tidak hanya berfokus pada mineral dan batu bara, tetapi kini juga mencakup migas. 

“Hari ini membuktikan bahwa hilirisasi Indonesia tidak hanya di sektor mineral dan batubara, tapi juga mulai bergerak ke minyak dan gas bumi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan fasilitas pengolahan turunan migas berskala besar diharapkan memperkuat ketersediaan bahan baku industri petrokimia dalam negeri, menekan tekanan impor, serta meningkatkan daya saing industri nasional.

Tags

Terkini