Listrik Indonesia | Ketua Umum Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API), Julfi Hadi menyatakan keyakinannya bahwa target kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) nasional lebih dari 5 gigawatt (GW) pada 2034 dapat dicapai. Optimisme tersebut didukung oleh kesiapan proyek yang telah disiapkan pemerintah serta kontribusi dari pengembang swasta atau independent power producer (IPP).
“Saya percaya bisa. Pemerintah (melalui PGE) sendiri sudah menyiapkan tambahan sekitar 500 MW, sisanya akan dikembangkan oleh IPP,” ujar Julfi Hadi, dikutip dari Majalah Listrik Indonesia Edisi 109, Selasa (23/12/2025).
Meski demikian, Julfi menegaskan pencapaian target tersebut membutuhkan terobosan baru dalam pengembangan panas bumi. Menurutnya, pendekatan lama tidak lagi memadai untuk mendorong percepatan kapasitas secara signifikan.
“Tapi itu semua harus disertai breakthrough. Kita tidak bisa lagi memakai pola lama,” katanya.
Julfi menjelaskan, pemerintah tengah mendorong inovasi teknologi, mulai dari penerapan closed loop system dalam tahap eksplorasi hingga pemanfaatan panas bumi untuk pengembangan green hydrogen dan bioenergi. Ia menyebut berbagai teknologi tersebut saat ini masih dalam tahap penelitian dan pengembangan.
Selain inovasi teknologi, percepatan pengembangan panas bumi juga menekankan tiga aspek utama, yakni manajemen risiko, penurunan biaya modal atau capital expenditure (capex), serta percepatan pengembangan proyek dan operasi. Salah satu strategi yang diterapkan adalah menurunkan risiko eksplorasi dan pengeboran melalui skema staged development pada proyek-proyek baru.
Pendekatan tersebut, lanjut Julfi, bertujuan meningkatkan tingkat keberhasilan proyek sekaligus mengoptimalkan alokasi modal. Di sisi lain, percepatan pencapaian Commercial Operation Date (COD) juga menjadi fokus agar listrik bersih dari panas bumi dapat segera disalurkan ke sistem kelistrikan nasional.
Ia menekankan bahwa percepatan tersebut perlu didukung sinergi antara pemerintah, PLN, dan pengembang swasta. Menurutnya, kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci agar pengembangan panas bumi dapat berjalan lebih efisien dan berkontribusi terhadap target energi terbarukan nasional.