Listrik Indonesia | Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Zulfan Zahar menegaskan keinginannya agar keterlibatan lokal, dalam hal ini masyarakat Indonesia untuk mengambil peran penting dan aktif dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
Hal itu diungkapkan Zulfan dalam Podcast Bincang Listrik Indonesia yang bertajuk: Jalan Terjal Energi Terbarukan Indonesia. Dia juga berharap terciptanya ekosistem pengembang energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.
“Saya sangat berharap sekali terhadap ekosistem METI dalam hal ini adalah pengembang EBT. Tolonglah ini pestanya di Indonesia dan ini untuk Indonesia. Jadi mari kita sedikit banyak harus selektif terhadap siapa yang akan berinvestasi,” ujar kandidat doktor ini.
Bukannya anti asing, Zulfan justru ingin memberikan ruang gerak yang leluasa bagi pengusaha Indonesia di bidang energi terbarukan. “Kalau dari asing yang berinvestasi silakan. Tapi tolong kita buat aturan supaya keterlibatan lokal dalam hal ini masyarakat Indonesia atau pengusaha Indonesia terlibat aktif,” tegasnya.
100 Persen EBT
METI sendiri membuka peluang seluas-luasnya pada masyarakat Indonesia untuk mengembangkan energi terbarukan. Bahkan METI, kata Zulfan, juga memiliki program 10 desa dengan listrik 100 Persen EBT.
“Saat ini yang sedang berjalan di Nusa Penida, Bali. Nanti akan berkembang ke timur dan ke barat Indonesia karena kita berkeadilan dan kita mulai dari Nusa Penida,” ucapnya. METI juga kerap melakukan edukasi terhadap pengembangan energi baru seperti biomassa dan juga biodiesel.

Dalam ringkasan eksekutif IESR (2024) dikatakan bahwa peta jalan menuju Nusa Penida 100 persen energi terbarukan di 2030 dibagi menjadi tiga tahapan. Tahapan pertama pada tahun 2024 sampai 2027 memaksimalkan potensi PLTS yang disokong oleh battery energy storage system (BESS) untuk mengurangi konsumsi bahan bakar diesel di siang hari.
Tahapan kedua pada tahun 2027-2029 memaksimalkan potensi energi terbarukan lainnya untuk mengurangi peran pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD ) menjadi sebagai cadangan. Sedangkan tahap terakhir di tahun 2029-2030 adalah mengimplementasikan seluruh potensi energi terbarukan di Nusa Penida untuk pensiun operasi PLTD, didukung dengan penyimpanan energi skala besar seperti pumped hydro energy storage.
“Kami kedatangan beberapa pihak investor yang dalam hal ini memberikan solusi dari mulai teknologinya, harga yang affordable sampai dengan investasi financing-nya,” ungkap Zulfan.