Listrik Indonesia | PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus mempercepat pengembangan energi bersih dengan mendorong pemanfaatan gasifikasi biomassa sebagai solusi pengganti pembangkit berbasis diesel, khususnya di wilayah terpencil yang belum tersambung jaringan listrik interkoneksi.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PLN EPI dan PT Karimun Power Plant (KPP) pada Senin (6/4) di Jakarta. Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan bisnis syngas berbasis biomassa, sekaligus mendukung target transisi energi dan pencapaian net zero emission (NZE) pada 2060.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menegaskan bahwa biomassa kini tidak lagi dipandang sebagai energi alternatif semata, melainkan bagian penting dalam membangun ekosistem energi baru terbarukan (EBT) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Ia mengungkapkan, potensi biomassa nasional mencapai sekitar 80 juta ton per tahun. Namun, pemanfaatannya masih berkisar 20 juta ton, sehingga peluang pengembangannya masih sangat besar untuk menopang ketahanan energi nasional.
Menurut Hokkop, selama ini pemanfaatan biomassa banyak difokuskan pada skema co-firing di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Padahal, terdapat opsi lain yang lebih fleksibel, yakni melalui teknologi gasifikasi yang menghasilkan syngas dan dapat dimanfaatkan pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) maupun sistem kelistrikan terisolasi.
“Pendekatan gasifikasi biomassa ini menjadi solusi konkret bagi wilayah yang masih bergantung pada bahan bakar solar. Selain menekan biaya energi, langkah ini juga efektif dalam mengurangi emisi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keterbatasan desain PLTU serta kesiapan infrastruktur sebagai tantangan dalam optimalisasi co-firing. Oleh karena itu, diversifikasi pemanfaatan biomassa melalui gasifikasi dinilai sebagai strategi yang lebih adaptif, baik dari sisi teknis maupun bisnis.
Sebagai tahap awal, proyek percontohan akan dikembangkan di Karimun. Saat ini, fasilitas yang ada memiliki kapasitas sekitar 1 megawatt (MW) dan berpotensi ditingkatkan hingga 2 sampai 5 MW.
Direktur PT Karimun Power Plant, Arthur Palupessy, menyampaikan bahwa pihaknya memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan pembangkit berbasis diesel. Namun, dalam transisi menuju biomassa, tantangan utama terletak pada kepastian harga dan ketersediaan bahan baku.
Menurutnya, sistem diesel selama ini menawarkan struktur biaya yang relatif stabil, sementara pada biomassa diperlukan jaminan rantai pasok yang berkelanjutan agar proyek tetap layak secara ekonomi.
Untuk pembangkit berkapasitas 1 MW, kebutuhan biomassa diperkirakan mencapai sekitar 35 ton per hari. Karena itu, dibutuhkan sistem pasokan jangka panjang yang terintegrasi agar operasional pembangkit tetap terjaga.
“Jika aspek harga dan pasokan dapat dijaga konsisten, maka gasifikasi biomassa akan menjadi solusi yang sangat kompetitif dibandingkan diesel,” jelasnya.
Dalam kerja sama ini, PLN EPI akan berperan sebagai agregator sekaligus pengembang ekosistem biomassa secara menyeluruh. Peran tersebut mencakup pemetaan sumber bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, penyediaan teknologi gasifikasi, hingga distribusi syngas ke pembangkit.
Selain menghasilkan energi listrik, proyek ini juga membuka peluang ekonomi baru melalui produk turunan seperti biochar yang memiliki nilai jual.
Ke depan, PLN EPI menargetkan model bisnis ini dapat diterapkan di sekitar 200 lokasi PLTD di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk mengurangi ketergantungan pada solar sekaligus mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.