Listrik Indonesia | Kinerja hulu migas nasional kembali menunjukkan tren positif. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengungkapkan bahwa PT Pertamina EP Asset 2 (PHR Zona 4) berhasil mencatat capaian penting melalui sumur pengembangan BNG-079 di Struktur Benuang, Lapangan Adera, Sumatera Selatan.
Sumur yang awalnya ditajak sebagai Benuang (BNG)-A10 pada 3 Maret 2026 ini, hingga 10 April 2026 telah sukses menjalani uji produksi dengan hasil awal yang cukup signifikan. Produksi tercatat mencapai 473,31 barel minyak per hari (BCPD) dan 6,5 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD).
“Menariknya, aliran hidrokarbon dari sumur ini terjadi secara natural melalui mekanisme open flow, menandakan kondisi reservoir yang masih sangat baik,” ujar Djokokepada Listrik Indoneia. Senin, (13/4/2026).
Produksi tersebut berasal dari lapisan eksisting TAF-P3 yang dikenal memiliki tekanan reservoir kuat. Lokasi pengeboran berada di wilayah Timur Laut Kota Prabumulih, Sumatera Selatan—salah satu area strategis dalam pengembangan migas nasional.
Tak hanya dari sisi produksi, aspek keselamatan kerja juga menjadi sorotan utama. Operasi pengeboran sumur BNG-079 mencatat total 52.320 jam kerja aman (safe man hours) sejak awal kegiatan. Capaian ini menunjukkan komitmen tinggi terhadap penerapan prinsip HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) serta operational excellence di lapangan.
Dari sisi teknis, pengeboran dilakukan secara directional menggunakan Rig PDSI #41.3/N110UE hingga mencapai kedalaman akhir 2.559 meter measured depth (mMD) atau 2.514,60 meter true vertical depth (mTVD). Seluruh proses, mulai dari pengeboran hingga uji produksi, diselesaikan dalam waktu relatif cepat, yakni 38 hari.
Efisiensi juga tercermin dari sisi biaya. Total investasi yang telah dikeluarkan untuk sumur ini mencapai USD 6,06 juta, atau sekitar 84,01 persen dari total Authorization for Expenditure (AFE) yang disetujui. Hal ini menunjukkan pengendalian biaya yang optimal tanpa mengorbankan kualitas dan keselamatan operasi.
Capaian sumur BNG-079 ini diharapkan dapat menjadi tambahan signifikan bagi produksi migas nasional, sekaligus memperkuat optimisme terhadap potensi lapangan-lapangan eksisting di Indonesia yang masih dapat dioptimalkan melalui strategi pengembangan yang tepat.