Ketergantungan Impor Naik, B50 Diklaim Jadi Jalan Keluar

Senin, 13 April 2026 | 17:24:17 WIB
B50.

Listrik Indonesia | Anggota Komisi XII DPR RI, Meitri Citra Wardani mengungkapkan bahwa percepatan implementasi program biodiesel B50 menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah tekanan global. Hal tersebut ia ungkapkan dalam keterangan resminya, dikutip pada Senin, (13/04/2026).

Menurut Meitri, sektor energi Indonesia saat ini menghadapi tantangan dari hulu hingga hilir. Pada sektor hulu, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas hingga Februari 2026 mengalami kontraksi sebesar 36,3 persen secara tahunan akibat penurunan produksi alamiah pada sumur-sumur tua.

“Kondisi hulu yang menantang berdampak pada tingginya ketergantungan impor. Tahun 2026, impor bensin diproyeksikan masih mencapai 59 persen dari kebutuhan nasional, sementara LPG sudah menyentuh 83,97 persen,” ujarnya.

Ia menilai, tingginya ketergantungan impor tersebut semakin berisiko di tengah dinamika geopolitik global, termasuk potensi gangguan pada jalur distribusi energi strategis seperti Selat Hormuz. Diversifikasi sumber impor dinilai penting, namun hanya bersifat jangka pendek.

“Solusi jangka panjang yang fundamental adalah mengoptimalkan potensi domestik melalui B50,” tegasnya.

Lebih lanjut, Meitri menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keunggulan sebagai produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia, dengan produksi mencapai 46–50 juta ton per tahun atau lebih dari 50 persen pasokan global. Potensi ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk mendorong kemandirian energi nasional.

“B50 adalah instrumen untuk mengubah keunggulan sumber daya menjadi kunci swasembada energi,” jelasnya.

Ia juga menyebut bahwa implementasi B50 berpotensi menekan impor solar yang pada awal 2026 masih berada di kisaran 6,26 persen. Selain memperkuat pasokan energi, kebijakan ini dinilai dapat menjaga stabilitas harga energi domestik.

“B50 bukan sekadar program teknis, tetapi bantalan ekonomi bagi masyarakat. Dengan energi yang mandiri, kita memiliki kontrol lebih kuat terhadap stabilitas harga,” ujarnya.

Di sisi lain, Meitri menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur untuk mendukung implementasi B50, termasuk pada aspek distribusi dan pengolahan. Optimalisasi kilang dalam negeri, seperti proyek RDMP Balikpapan, dinilai perlu terus diperkuat.

Ia menegaskan bahwa roadmap implementasi B50 perlu dikawal secara konsisten agar mampu mendorong swasembada energi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi energi global.

“Optimalisasi potensi sawit menjadi jalan strategis untuk mengunci kemandirian energi dan memperkuat posisi Indonesia di panggung geopolitik dunia,” pungkasnya.

Tags

Terkini