AGENDA Renewable Energy ENERGY PRIMER MEGA PROJECT NEWS
Trending

Angin Segar untuk PLTN di Indonesia

Angin Segar untuk PLTN di Indonesia
Ilustrasi

Listrik Indonesia | Siklus pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia saat ini tengah memasuki fase 1. Dari 19 item yang disayarakan IAEA Indonesia tinggal memenuhi 3 item lagi maka bisa go nuklir.

Dalam acara webinar "Nuclear as Clean & Sustainable Energy" Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha menyampaikan, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mensyaratkan harus memenuhi 19 item dan Indonesia sudah menyelesaikan 16 item. Saat ini posisi Indonesia sudah memasuki fase 1 dari siklus pembangunan PLTN. 

“Tiga item lagi yang belum yaitu posisi nasional Indonesia, pembentukan Organisasi Pelaksana Program Tenaga Nuklir yang memonitor implementasi energi nuklir, dan soal keterlibatan seluruh pemangku kepentingan termasuk masyarakat,” ujarnya. Kamis, (18/2/2021)

Menurut Satya, keuntungan nuklir antara lain tidak ada pembakaran, tidak mengeluarkan gas CO2 atau NH4, memerlukan lahan paling sedikit sehingga tidak mengganggu ekosistem, membutuhkan paling sedikit bahan bangunan dan bahan bakar, memiliki paling sedikit limbah.

“Kalau Indonesia sudah memenuhi sisa tiga item ini, maka Indonesia bisa masuk pada fase Go Nuklir,” kata Satya.



Sementara itu, Founder dan Ketua dari Komunitas Nuklir Dunia Stand Up for Nuclear dan merupakan Engineer, Mark Nelson, mengungkapkan bahwa Jerman pada tahun 2018 pada sistem kelistrikan yang sudah terbangun (540 TWh) rata-rata menghasilkan 510 gram CO2 per kWh, sedangkan Perancis pada tahun 2018 pada sistem kelistrikan yang sudah terbangun (547 TWh) rata -rata menghasilkan 51 gram CO2 per kWh.

Jerman yang mengandalkan energi terbarukan dan sudah menutup PLTN yang dimiliki, sedangkan Perancis yang terus menggunakan PLTN menunjukkan adanya perbedaan dalam sisi ketergantungan karbon yang mana Perancis secara keseluruhan terbukti lebih bersih. Hal yang demikian juga diperkuat dengan data dari Akademisi asal Jerman, Bjorn Peters, dengan mengungkapkan kegagalan dari target transisi energi Jerman yang mengandalkan energi terbarukan dan masih menunjukkan bahwa Jerman sendiri memiliki instensitas karbon yang cukup tinggi dalam produksi listriknya.

“Hal yang demikian menunjukkan bahwa kebijakan transisi energi dengan menggunakan energi terbarukan seperti Jerman, masih tetap belum dapat membuktikan adanya peran untuk menurunkan tingkat perubahan iklim di negara tersebut,” ucapnya. (Cr)


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button