NEWS
Trending

Apa Itu Transisi Energi ?

Apa Itu Transisi Energi ?

Listrik Indonesia | Bagi sebagian orang transisi energi berarti perombakan pengadaan energi dengan cara semakin meninggalkan minyak, batu bara, gas dan tenaga nuklir sambil meningkatkan pembangkitan energi terbarukan. Namun hal itu berbeda di mata Profesor Iwa Garniwa, Ketua Sekolah Tinggi Teknik PLN.
 

Tingkat ketergantungan manusia terhadap energi fosil masih tinggi, bahkan negara-negara maju di dunia masih mengandalkan energi fosil untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi Indonesia, tercatat tingkat konsumsi energi fosil negara kita mencapai 96 persen yang mana minyak bumi sebesar 48 persen, gas 18 persen, dan batu bara 30 persen. Kemudian dunia serentak berusaha mencari pengganti energi fosil, yakni dengan mengembangkan energi terbarukan.
 

Salah kaprah jika kita menganggap energi terbarukan menggantikan energi fosil/konvensional disebut transisi energi menurut Prof Iwa Garniwa. Dirinya mempunyai narasi tersendiri tentang kata “Transisi” hal ini dilandasi bahwa manusia memang tidak bisa lepas dari ketergantungannya terhadap energi fosil.
 

“Baru-baru ini lagi Nge-trend kata-kata transisi energi, apa sih sebenarnya yang dimaksud transisi energi itu,” ucapnya.
 

Menurutnya berbicara transisi energi tidak bisa lepas dari dua aspek yaitu teknologi dan kondisi sosial. Ungkapan transisi energi diartikan oleh Iwa adalah tahapan atau proses di mana pemanfaatan energi tidak bisa lepas dari dua aspek itu. Bukan secara frontal mengatakan penggunaan energi konvensional digantikan dengan energi terbarukan.
 

“Kata energi konvensional digantikan dengan energi terbarukan lebih tepat disebut revolusi energi bukan transisi energi,” tegasnya.
 

Iwa mencontohkan transisi energi pada transportasi yang saat ini memasuk era kendaraaan listrik (Full Electric Vehicle). Di mana kendaraan teknologi hybrid disebut transisi sebelum memasuki full electric vehicle. Begitu juga dengan ketenagalistrikan, bahwa menciptakan energi bersih merupakan transisi energi.
 

“Saat ini teknologi untuk pembangkit batu bara yang bisa menciptakan energi bersih,”terangnya.
 

Prof Iwa menilai Indonesia belum mempunyai pemikiran-pemikiran transisi, tetapi lebih pemikiran mengganti. Lalu secara terang-terangan dimasukkan ke dalam kebijakan/regulasi. Akibatnya, perkembangan energi terbarukan di Indonesia belum signifikan untuk mencapai 23 persen sebagaimana yang dituangkan dala Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).
 

“Seharusnya ada klusterisasi perubahan energi fosil menuju hybrid. Dan membuat roadmap terkait transisi energi,” pungkasnya. (CR)


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button