Electricity System MEGA PROJECT NEWS
Trending

Apa 'Reserve Margin' Kelistrikan itu?

Apa 'Reserve Margin' Kelistrikan itu?
Ilustrasi: Jaringan transmisi [Foto: hawkins.com - LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - Kapasitas pembangkit listrik di Jawa, Madura, dan Bali diproyeksikan pada 2022 bertambah 5.000 megawatt (MW). Penambahan ini berasal dari beberapa pengembang listrik swasta (independent power producer, IPP).

Salah satu pembangkit listrik yang beroperasi pada 2020 adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang 2 x 1.000 MW yang dikembangkan PT Adaro Energy Tbk (ADRO).

Kemudian PLTU Tanjung Jati 1 unit, Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa-1, dan PLTU Cirebon. Dengan demikian, total kapasitas pembangkit listrik bertambah sekitar 4.000-5.000 MW. 

Penambahan kapasitas pembangkit listrik tersebut diperkirakan memantapkan suplai listrik ke depan guna mencukupi kebutuhan Jawa, Madura, dan Bali (Jamali). Bahkan, sangat mungkin cenderung melebihi kebutuhan (over supply). 

Kelebihan pasokan listrik terjadi pada 2020 sebagai dampak pandemi covid-19. Cadangan listrik dibandingkan kapasitas beban puncak pembangkit listrik atau reserve margin melonjak menjadi 30,10% dari target 25% pada 2020.

BACA JUGA: Hutama Karya Fokus Garap Pembangkit Kapasitas Besar

Menelisik penyebab over supply tersebut jelas menunjukkan bukan berarti pembangunan pembangkit listrik ke depan tak dibutuhkan. Kenyataannya kebutuhan suplai tenaga listrik terus bertambah. Belum lagi bila dikaitkan ketersediaan di wilayah Indonesia bagian Timur, umumnya.  


Perbandingan di ASEAN 

Catatan LISTRIK INDONESIA, reserve margin adalah persentase kapasitas terpasang tambahan atas permintaan puncak tahunan. Ini kriteria yang deterministik digunakan mengevaluasi keandalan sistem dengan mendefinisikan margin sasaran pembangkitan. 

Di Indonesia, reserve margin dan pendekatan probabilistik (loss of load probability, LOLP), keduanya dipakai. 

Hal tersebut dapat dibaca di RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik). Misalnya di sistem Jawa-Bali RUPTL menyebutkan, kriteria LOLP < 0,274%  dan reserve margin >25-30%. 

Apabila dinyatakan dengan daya terpasang maka reserve margin yang dibutuhkan sekitar 35% (asumsi derating pembangkit 5%). Sedangkan untuk wilayah operasi Indonesia bagian Timur misalnya, reserve margin ditetapkan sekitar 40%.

Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik oleh PLN periode 2013-2022, pada sistem interkoneksi Jawa-Bali, reserve margin ideal antara 25-30 dengan basis daya mampu netto. Apabila terhadap daya terpasang maka reserve margin yang dibutuhkan sekitar 35%. 

Sedangkan di luar operasi Jawa-Bali, reserve margin ditetapkan sekitar 40% mengingat jumlah unit pembangkit yang lebih sedikit. Pun karena unit size yang relatif besar dibandingkan beban puncak, derating yang persentasenya lebih besar, dan pertumbuhan lebih tinggi dibanding Jawa-Bali. 

Perusahaan-perusahaan listrik di negara lain umumnya memakai prinsip reserve margin 30% atau lebih. Contohnya di ASEAN, TNB di Malaysia dan EGAT di Thailand menetapkan cadangan di atas 30%. 

BACA JUGA: Tingkatkan Kapasitas Pembangkit EBT, PLN Lakukan Co-Firing di 26 PLTU

Oleh Singapore Power, cadangannya bisa di atas 50%. Malah beberapa sumber menyebut cadangannya sampai 100%. Tanpa cadangan daya listrik yang sangat cukup, Singapore pasti tidak berani berani menyelenggarakan balap mobil Formula-1 atau F-1 di malam hari.


Untuk Antisipasi Apa?

Sederhananya, untuk apa persentase reserve margin itu ditetapkan oleh pemerintah? Setidaknya guna mengantisipasi beberapa hal sebagai berikut:

1. Terdapat pembangkit listrik yang masuk periode pemeliharaan. Pemeliharaan tentu suatu keharusan agar kapasitasnya tetap terjaga sesuai desain awal. 

2. Ada pembangkit listrik yang mengalami gangguan sehingga kapasitasnya hilang 100% atau turun sebagian (derating). Hal ini sangat mungkin terjadi. Derating atau berkurang kapasitas pembangkit juga bisa terjadi ketika batu bara pada pada PLTU menurun kualitasnya. Bisa juga sebab proses produksinya terganggu, seperti suhu udara luar (ambient temperature) sedang panas. 

3. Terjadi pertumbuhan atau lonjakan beban. Lonjakan beban tidak bisa diatur. Kalau pasokan listrik pas-pasan dan terjadi lonjakan beban maka bisa terjadi pemadaman. 

Adanya reserve margin yang dihitung cermat memungkinkan hal-hal tersebut di atas dapat diantisipasi, demi terjaganya perputaran roda ekonomi sekaligus pelayanan prima kepada pelanggan listrik. (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button