NEWS
Trending

APPI: Efesiensi Energi Dasarnya dari Niat dan Kemauan

APPI: Efesiensi Energi Dasarnya dari Niat dan Kemauan
Karnadi Kuistono, Ketua APPI. (Foto: R Akmal)
Listrik Indonesia | Guna mengurangi konsumsi energi nasional dalam proses kegiatan ekonomi terhadap sektor-sektor industri, transportasi, gedung-gedung komersial, dan rumah tangga, pemerintah telah mencanangkan program efisiensi energi.

"Efesiensi energi dasarnya dari niat dan kemauan. Kalau tidak didukung dengan niat dan kemauan tidak akan terjadi yang namanya efesiensi energi. Contohnya, seperti kWh meter, itu hanya dikenal untuk alat catat pemakaian daya listrik," ungkap Karnadi Kuistono, Ketua Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia (APPI) kepada Listrikindonesia.com di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (10/05).

Lanjutnya, pada kWh meter listrik jika dikembangkan teknologinya bisa menjadi suatu alat yang bisa menghemat energi. "Jadi, dia bisa mengatur misalnya, dengan kekuatan cahaya tertentu bisa lebih efisien dan optimal," ujarnya.

Sementara itu, pada produk lain pihaknya harus memikirkan bagaimana caranya agar semua produk listrik dapat menghemat energi, tentunya dalam segi keandalan, supaya nilai barang tersebut selain mutunya tetap baik, tapi mempunyai umur atau nilai pemakaian jauh lebih lama/ panjang.

Ia mengatakan, dukungan APPI sendiri dalam hal melakukan efisiensi energi yakni harus didukung juga dengan kebijakan-kebijakan Pemerintah bagi peralatan-peralatan listrik yang bisa hemat energi, dan mendapatkan dorongan dengan cara kemudahan-kemudahan untuk daya saing dengan barang-batang impor. "Artinya mendapatkan TKDN  (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) plus misalnya. Selama ini, tidak ada yang hanya memperhitungkan penggunaan material lokal dan material impor berapa banyak. Jadi, tidak dimanfaatkan menjadi suatu nilai tambah, dengan upaya enjiniring yang dilakukan oleh tenaga-tenaga ahli di Indonesia," terangnya.

"Harapan kita untuk peralatan-peralatan listrik yang sudah diproduksi di Indonesia, pemerintah dapat mengunci, jadi Negatif List (tidak boleh impor sama sekali), karena kemampuan kapasitas terpasang pabrik kita di dalam negeri masih mampu melayani kebutuhan dalam negeri," imbuhnya.

Ia mengungkapkan, kebanyakan pabrik di Indonesia hanya beroperasi sekitar 50% produksinya. "Seperti halnya kWh meter ini kapasitas terpasang dari total semua pabrik itu sekitar 15 juta unit per tahun, tapi yang di beli pemerintah hanya lima juta unit, lalu sisanya sebanyak 10 juta terpaksa nganggur. Hal tersebut tentunya sangat disayangkan," imbuhnya.

"Pemerintah harus menekan produk impor dan gunakan produk lokal agar bisa menguntungkan dan meningkatkan kapasitas produksi buatan dalam negeri," tandasnya. (GF)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button