Renewable Energy ENERGY PRIMER NEWS
Trending

Baterai atau Natural Gas untuk Back-up PLTB dan PLTS?

Baterai atau Natural Gas untuk Back-up PLTB dan PLTS?
Arcandra Tahar [Foto: minews.id - LISTRIK INDONESIA]

Oleh: Arcandra Tahar*

Salah satu kelemahan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan tenaga surya (PLTS) adalah ketersediaan energi yang dibangkitkan tidak bisa secara terus-menerus. 

Pada saat malam hari atau cuaca mendung, matahari tidak bisa menyinari panel surya. Akibatnya PLTS tidak bisa bekerja. Begitu juga dengan PLTB, sewaktu tidak ada angin yang memutar kincir maka PLTB tidak optimal membangkitkan energi listrik. 

Solusi yang bisa mengatasi masalah mati-hidup (on/off) energi yang dibangkitkan oleh PLTS dan PLTB adalah menyimpan energi yang dibangkitkan ke dalam baterai atau energy storage. Sewaktu PLTB atau PLTS mati maka baterai akan digunakan untuk memenuhi energi listrik yang dibutuhkan. 

Biaya pembangkitan yang dihitung dengan metoda levelized cost of electricity (LCOE) atas PLTB dan PLTS sangat bervariasi tergantung teknologi yang dipilih, kapasitas, lokasi, sumber pendanaan, dll. 

Menurut laporan IRENA (International Renewable Energy Agency) 2019, rata rata biaya pembangkitan PLTS di dunia berada di sekitar $6.8 c/kWh (di Timur Tengah bisa lebih murah). PLTB yang dipasang di darat sekitar $5.3 c/kWh, sementara yang di laut sekitar $11.5 c/KWh. 

Biaya pembangkitan itu sudah jauh lebih murah dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. 

BACA JUGA: Punya Segudang Bahan Nikel, Saatnya Indonesia Jadi Raja Baterai Lithium-Ion

Dengan baterai yang digunakan untuk mem-back-up PLTB dan PLTS, biaya pembangkitan tentu bertambah. Menurut data yang kami pelajari, LCOE baterai yang menggunakan kimia nickel manganese cobalt (MNC) bisa disekitar $15 c/kWh. 

Menggunakan lithium iron phosphate (LFP) seperti yang banyak digunakan di China, LCOE bisa disekitar $11.5 c/kWh. Kenapa bisa lebih murah di China? Selain karena harga material LFP lebih murah dari MNC, juga karena ekosistem industri baterai yang sudah terbentuk disana. Persaingan antarpelaku usaha baterai juga ikut andil dalam turunnya biaya ini. 

Selain menggunakan baterai, mati-hidup PLTB dan PLTS dapat di-back-up menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) atau Gas (PLTG). 

Kita tahu, untuk menggantikan energi listrik yang mati secara tiba-tiba diperlukan pembangkit yang bisa hidup secara cepat. PLTD dan PLTG memenuhi kriteria ini. PLTD memerlukan waktu di bawah 10 menit mencapai beban penuh, sementara PLTG memerlukan 30 menit. 

Bagaimana pembangkit listrik lain, seperti tenaga uap (PLTU)? Untuk start-up, PLTU membutuhkan waktu yang lebih lama, bisa di atas 10 jam sehingga tidak direkomendasikan sebagai back-up PLTB atau PLTS. Memang segi biaya pembangkitan, PLTU jauh lebih murah daripada PLTD dan PLTG. 

Dengan pilihan antara PLTD dan PLTG, manakah yang lebih ekonomis menjadi back-up pembangkit PLTB dan PLTS? 

Ada beberapa faktor yang harus dikaji untuk memutuskannya. Pertama, ketersediaan infrastruktur dalam rantai pasok antara diesel fuel atau gas. Akan lebih mudah memindahkan diesel fuel dari satu tempat ke tempat lain, tetapi tidak dengan gas yang mungkin membutuhkan pipa atau dipindah dalam bentuk LNG. 

BACA JUGA: Tesla Amankan Suplai Nikel Genjot Produksi Baterai Mobil Listrik


Kedua, segi biaya pembangkit. PLTG lebih murah daripada PLTD karena harga gas yang lebih hemat daripada harga diesel fuel

Pertanyaan selanjutnya mana yang lebih ekonomis, PLTG atau baterai? Tidak mudah untuk menjawabnya, debatnya bisa panjang. 

Kalau kita menggunakan harga baterai LFP yang di China maka PLTG akan lebih ekonomis menjadi back-up PLTB dan PLTS apabila LCOE kurang dari $11.5 c/kWh. 

Tantangan ini memang tidak mudah karena LCOE baterai yang cenderung turun dari tahun ke tahun, sementara harga gas bisa fluktuatif, naik dan turun. Semoga bermanfaat. Inshaa Allah. ()


*Penulis adalah mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sekarang Komisaris PT Perusahaan Gas Negara (Persero)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button