NEWS
Trending

Bersama PLN, Pemerintah Paparkan Progres Penggunaan EBT di Indonesia

Bersama PLN, Pemerintah Paparkan Progres Penggunaan EBT di Indonesia
Listrik Indonesia | Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Kamis, 1 November 2017 menggelar konferensi pers terkait penggunaan pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Rida Mulyana mengungkapkan, pemerintah terus berupaya mengejar target bauran EBT sebesar 23% di tahun 2025.

Investasi di sektor EBT, menurut Rida, masih menunjukkan tren perkembangan yang positif. "Ada sekitar sembilan Independent Power Producer (IPP) perusahan listrik swasta yang akan menandatangani Power Purchase Agreement (PPA) dengan PT PLN (Persero) dalam waktu dekat, dengah total kapasitas sebesar 640,65 Megawatt (MW)," ujar Rida disela-sela komferensi pers di Kantor ESDM Jakarta, Kamis (2/11).

Dikatakan oleh Rida, ada tiga jenis pembangkit yang akan melakukan PPA dalam waktu dekat, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM dan PLTMH).

"Pertama yaitu PLTP, yang berlokasi di Sumatera Selatan, PLTP Rantau Dedap yang akan dikelola oleh PT Supreme Energy kapasitas pada tahap pertama sekitar 86 MW," tambahnya.

Ia melanjutkan, yang kedua yaitu PLTA, yang berlokasi di Poso, Sulawesi Tengah, kapasitas tahap pertama sekitar 515 MW.

"Dan yang ketiga, PLTM dan PLTMH yang tersebar di seluruh lokasi di Indonesia, salah satunya yakni Jawa Barat ada dua unit, PLTM Cibanteng dan Cikaso 3, Jawa Tengah ada dua unit, Sumatera Utara satu unit, Gorontalo satu unit, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) satu unit," jelas Rida.

Hal tersebut dibenarkan oleh Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Andy Noorsaman Sommeng yang mengatakan, ada sembilan pembangkit listrik berbasis EBT yang akan melakukan PPA si tahun 2017 ini.

"Delapan diantaranya yakni PLTA dan Satu PLTP. Pertama PLTA yang berlokasi di Poso berkapasitas 515 MW, dengan menggunakan skema build, own, operate, and transfer (BOOT), dan diharapkan dapat Commercial Operation Date (COD) di tahun 2021," jelas Andy.

Ia menambahkan, dengan total investasi mencapai 830,1 juta US$, ini cukup besar sekali, dan ini merupakan satu-satunya pembangkit yang terbesar dalam beberapa tahun ini yang dibangun. "Itu tidak langsung sekaligus 515 MW, melainkan dengan tahapan-tahapan, pertama dibangun 3x65 MW eksisting yang sudah beroperasi, COD 2012 silam dengan tarif US$ 6,749 sen per kilo Watt hours (kWh). Eksisting tahap pertama 4x30 MW, tahap kedua 4x50 MW, dan yang ketiga ini yang terakhir yang beroperasi sebagai peaker dengan tarif US$ 8,4 sen per kWh diharapkan COD tahun 2021," ungkapnya.

Dirinya mengharapkan, Pulau Sulawesi bauran EBT cukup besar di tanah air, dan mungkin semakin lama Biaya Pokok Produksi (BPP) di Sulawesi semakin rendah.

Sementara, PLTP Rantau Dedap direncanakan 2x110 MW, tahap pertama sebesar 106 MW, dengan masa kontrak selama 30 tahun, dengan tarif US$ 11,76 sen per kWh. Yang terakhir besaran kapasitasnya sekitar 80 MW.

Sementara tujuh pembangkit berbasis EBT cukup banyak, dengan total kapasitas mencapai 39,65 MW yang tersebar di seluruh Indonesia. "Paling lama diharapkan COD tahun 2020. Jika dilihat semua total investasi EBT mencapai Rp 20,413 triliun," terang Andy.

Sementara Direktur Pengadaan Strategis I PT PLN Nicke Widyawati mengatakan, "Statusnya kita sudah sampaikan kepada Menteri ESDM (Ignasius Jonan) untuk persetujuan tarifnya," imbuhnya.

"Pertengahan Oktober 2017 ini (tentatif), PLN akan melakukan penandatangan PPA dengan para IPP secara bersama-sama (sekaligus)," tandas Nicke. (RG)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button