Trending

BPPT Terus Mendorong Inovasi dan Pengembangan Teknologi Bidang Energi

BPPT Terus Mendorong Inovasi dan Pengembangan Teknologi Bidang Energi
Dok. Istimewa

Listrik Indonesia | Energi listrik merupakan komponen utama dalam pembangunan nasional khususnya pembangunan ekonomi, secara empiris setiap 1% pertumbuhan ekonomi, memerlukan lebih kurang 2% pertumbuhan energi, termasuk kelistrikan. Oleh karenanya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)  sangat berkepentingan dalam turut berkontribusi melakuakn Litbangjirap di bidang energi.

 

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza, mengatakan dari kajian proyeksi energi Indonesia yang dilakukan BPPT dengan Outlook Energi Indonesia BPPT, menunjukkan bahwa dalam waktu dekat, ketersediaan sumber energi fosil semakin menipis. “Sehingga menjadi urgen untuk mempercepat Pengembangan dan pemanfaatan energi terbarukan sebagai langkah mempertahankan ketersedian energi untuk kelangsungan pambangunan,” ujar Hammam, kepada Listrik Indonesia, bebrapa waktu lalu.

 

Hammam menabahkan, BPPT memfokuskan litbangjirap pada usaha pengembangan pemanfaatan energi terbarukan, sekaligus juga pengembangan rekayasa rancang bangun sistem konversi energi tersbut agar dapat diproduksi oleh industri dalam negeri. “Dengan demikian diharapkan BPPT dapat berkontribusi, tidak saja dalam menyediakan teknologi pemanfaatan energi terbarukan, tetapi juga membantu industri dalam negeri dalam menghasilkan peralatan-peralatan yang diperlukan, sehingga dapat membantu perputaran ekonomi,” kata dia.

 

Menurut Hammam, BPPT sebagai LPNK Kemenristek/BRIN mendukung Pemerintah dalam mengembangkan energi alternatif sejalan RUEN tersebut melalui 7 (tujuh) peran strategis yaitu: perekayasaan, audit teknologi, kliring teknologi, alih teknologi, intermediasi teknologi, difusi IPTEK dan komersialisasi teknologi.

 

BPPT berperan aktif dalam melakukan inovasi pengembangan energi alternatif di bidang ketenagalistrikan. Ada 3 kebijakan pemerintah yang terkait dengan pengembangan energi alternatif ini, yaitu:

 

a.            Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dengan target bauran EBT pada tahun 2025 sebesar 23% dan pada tahun 2050 sebesar 31% seperti yang tertuang dalam Kebijakan Energi Nasional.

b.            Komitmen dalam Paris Agreement untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% melalui upaya sendiri dan 41% dengan dukungan internasional terhadap Business as Usual (BAU) pada tahun 2030.

c.             Sustainable Development Goal (SDG) yang memandu pencapaian tujuan global sampai tahun 2030, yaitu memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua.

 

BPPT terus mendukung upaya pencapaian target kebijakan tersebut dan sudah melakukan inovasi teknologi pengembangan energi alternatif diantaranya adalah:

•             Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) skala kecil

•             Pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) berbasis limbah cair pabrik kelapa sawit (POME: palm oil mill effluent)

•             Biomassa untuk Co-Firing pembangkit listrik tenaga uap dengan bahan bakar batubara.

•             Pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa)

•             Bahan bakar biodiesel B30 dalam rangka mengurangi impor minyak solar.

 

Menurut Hammam, BPPT sesuai UU Sinasiptek memiliki peran dalam hal Kaji Terap teknologi untuk kemajuan bangsa, dan untuk mendukung peran tersebut memiliki berbagai Unit Kerja yang terkait energi, mulai dari teknologi sumberdaya energinya, sistem konversi energi, sistem peralatan energi, hingga mengenai kajian kebijakan teknologi energi, dan industri manufaktur yang mendukungnya. “Dengan demikian, BPPT merupakan lembaga kunci dalam mendorong terciptanya Inovasi, maupun Pengembangan teknologi khususnya di bidang energi,” imbuh Hammam. (TS)

 


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button