Emission & Carbon ENVIRO NEWS
Trending

Co-firing PLTU Jadi Solusi Atas Masalah Sampah Perkotaan

Co-firing PLTU Jadi Solusi Atas Masalah Sampah Perkotaan
Direktur Mega Proyek PT PLN (Persero), M. Ikhsan Asaad

Listrik Indonesia | Direktur Mega Proyek PT PLN (Persero), M. Ikhsan Asaad meyakini program co-firing PLTU akan menjadi solusi masalah sampah perkotaan. Sebab, katanya, sampah-sampah itu bisa dijadikan pelet sampah untuk dicampurkan dengan bahan bakar PLTU.

"Selain itu juga, penggunaan sampah sebagai bahan bakar dapat menjadi salah satu solusi penanganan sampah di perkotaan. Dan manfaat lainnya akan meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar PLTU," ujar Ikhsan dalam FGD Co-firing PLTU, pekan lalu.

Diakuinya, progr co-firing ini menjadi unggulan PLN untuk mempercepat bauran energi baru terbarukan (EBT) hingga 23 persen di tahun 2025. Saat ini, bauran EBT baru mencapai 14 persen. Namun, pihaknya memerlukan berbagai akselerasi untuk mencapai target EBT pada tahun 2025 itu.

"Salah satu strategi adalah dengan mengembangkan skema cofiring. Program cofiring ini bagian dari green transformasi PLN yang telah diluncurkan sejak April 2020. Kami melihat, potensi pengembangan cofiring cukup tinggi," katanya.

Di Indonesia itu, lanjut mantan General Manager PLN UID Jakarta Raya ini, potensi biomassa dan sampah cukup melimpah untuk bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Di sisi lain, ucapnya,  jumlah PLTU PLN yang saat ini beroperasi cukup banyak dengan kapasitas serta bauran lebih dari 50 persen dari energi yang dibangkitkan.

"Berdasarkan evaluasi kami, ada 52 lokasi PLTU dengan kapasitas mencapai 18 GW yang dapat beroperasi dengan skema cofiring. Melalui skema cofiring, biomassa dan sampah akan diolah jadi pelet sampah, pelet kayu maupun woodchip sebelum dilakukan proses pencampuran dengan batubara dengan proporsi hingga 5 persen," jelasnya.

Diakuinya, program cofiring telah diinisiasi sejak tahun 2017 dan pada 2019 telah diujicobakan pada 19 unit PLTU yang tersebar di seluruh Indonesia melalui anak usaha, PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali. Hasil ujicoba itu, tegasnya, menunjukkan hasil yang baik dan positif.

"Kami juga telah berhasil melakukan komersialisasi operasi di PLTU Paiton menggunakan biomassa dengan porsi mencapai 5 persen. Program cofiring ini sangat berpotensi, tidak hanya untuk meningkatkan penggunaan EBT saja, cofiring juga pada prinsipnya dapat mengurangi bahan bakar fosil batu bara sehingga dapat mengurangi emisi gas karbon," tuturnya. (pin)


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button