AGENDA NEWS
Trending

DEN – Listrik Indonesia Gelar Webinar Bahas Potensi Migas dan Panas Bumi

DEN – Listrik Indonesia Gelar Webinar Bahas Potensi Migas dan Panas Bumi

Listrik Indonesia | Energi Minyak dan Gas (Migas) dan Panas Bumi selalu menjadi isu yang hangat diperbincangkan, di mana Migas salah satu sektor penyumbang devisa negara terbesar, sedangkan dari sektor energi terbarukan ada Panas Bumi yang digadang-gadang bakal menjadi penyangga kelistrikan nasional di masa depan. Hal inilah yang mencetuskan Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Listrik Indonesia untuk menggelar Webinar bertajuk Potensi Sumber Daya Migas dan Panas Bumi sebagai Penyangga Energi  Masa Depan. Rabu, (11/8/2021).

Dalam Webinar itu menghadirkan tiga pembicara utama yaitu Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono, Anggota DEN RI 2021-2025 Satya Widya Yudha, dan Komisaris Utama PT PLN (Persero) Amien Sunaryadi. Selain itu, sambutan diisi oleh Sekretaris Jenderal DEN Djoko Siswanto, dan menghadirkan beberapa penanggap antara lain Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Riki F Ibrahim, anggota DEN Musri dan Herman Darnel Ibrahim. Jalannya diskusi dipimpin langsung oleh Rektor Institut Teknologi/IT PLN Prof. Dr. Ir Iwa Garniwa selaku moderator dan Master of Ceremonies dari Listrik Indonesia Irwan Rachman.

Eko Budi Lelono memaparkan kondisi pengembangan Panas Bumi Indonesia. Badan Geologi mencatat sumber daya panas bumi sebesar 23.765,5 MW, terdapat total 64 WKP diantaranya 17 WKP Eksisting, 43 WKP baru dan 14 WPSPE. Sedangkan kapasitas terpasang saat ini 2.139,7 MW dari 16 PLTP pada 14 WKP, sementara target 2025 untuk produksi listrik sebesar 3.916 MWh.

"Perlu adanya terobosan dalam pengembangan panas bumi dari beberapa lokasi potensi panas bumi yang ada saat ini untuk mencapai bauran energi yang ditargetkan, seperti government drilling sebagai upaya meningkatkan kualitas data panas bumi," kata Eko.

Terkait potensi Migas nasional, lebih lanjut Eko menerangkan, dari 2015 – 2020 terdata terdapat 42 rekomendasi WK Migas. Terdapat 13 potensi sumberdaya migas konvensional dan 4 non konvensional. Badan Geologi dalam hal ini akan menjadi center data kebumian/kegeologian yang semakin akurat dan berkualitas datanya sesuai yang diharapkan semua pihak.

Sementara itu, Satya Widya Yudha menyampaikan, bahwa transisi energi yang saat ini digaungkan tidak sertamerta meninggalkan energi fosil begitu saja. Dalam PP Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional tertulis kemandirian dan ketahanan energi dicapai dengan menjadikan energi sebagai modal pembangunan. Kemudian, Mengoptimalkan pemanfatan energi, untuk: pembangunan ekonomi nasional, penciptaan nilai tambah di dalam negeri, dan penyerapan tenaga kerja.

“Dalam rangka mengantisipasi tantangan saat ini ialah demand energi meningkat, sedangkan kapasitas pasokan energi terbatas.  Produksi minyak mentah turun, masih impor crude dan BBM jenis gasoline, dan makin tingginya impor LPG, Ekspor batubara tertekan dan Infrastruktur gas dan listrik belum terintegrasi maka pemerintah berupaya melakukan akselerasi pengembangan EBT dan penyediaan infrastruktur energi  melalui Grand Strategi Energi yang perlu segera dijalankan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Satya menjelaskan, dalam mendorong pengembangan energi terbarukan termasuk panas bumi dan kegiatan eksplorasi sesuai amanat PP KEN, adanya penguatan pendanaan yang berasal dari premi pengurasan energi fosil, perbankan dan alokasi dana khusus. Selain itu,   pembangunan PLTP dengan keekonomian harga jual listriknya akan lebih menarik investor pengembang. Rancangan Perpres terkait harga jual listrik EBT kepada PLN diharapkan dapat memformulasikan tarif listrik EBT yang bisa lebih kompetitif dengan energi fosil.

“Jadi dalam transisi energi tidak mesti langsung meninggalkan fosil karena energi itu masih bisa dioptimalkan dengan penggunaan teknologi bersih untuk menurunkan emisi karbon dan juga sektor tersebut banyak membuka lapangan pekerjaan,” imbuhnya.

Sedangkan menurut Amien Sunaryadi dalam Webinar itu mengatakan, pengelolaan energi harus efisien agar menghasilkan nilai tambah yang paling besar bagi penggunanya. Dalam hal ini, Rakyat Indonesia sebagai penggunanya sesuai amanat undang-undang dasar 1945 Pasal 33.

Dari data yang diperolehnya tercatat  dari 124 cekungan migas yang diidentifikasi, 60% belum pernah dilakukan pemboran dan dari 25 GW potensi panas bumi, baru diproduksikan 1,9 GW.

“Saat ini, kita masih kurang dalam mengeksplorasi energi salah satunya pansa bumi,” sebut Amien.

Diskusi pagi itu berjalan dengan menarik seperti Direktur Utama Geo Dipa Riki F Ibrahim menanggapi sektor energi panas bumi. Ia menerangkan, bahwa tantangan terbesar dalam pengembangan  panas bumi bukanlah soal risiko ekplorasinya, melainkan pembiayaan eksplorasinya alias harus mempunyai modal besar.

"Pengembangan panas bumi itu selain risiko eksplorasinya tinggi juga pembiayaan eksplorasinya cukup besar dan pengerjaanya bertahap, itulah seninya dari eksplorasi panas bumi,” tutur Riki.

Sementara itu, Musri yang juga anggota DEN mengingatkan, bahwa pentingnya penerapan teknologi dalam pengembangan energi. Ia meminta Badan Geologi untuk memaksimalkan eksplorasi agar dapat memberikan data yang akurat dalam rangka pengembangan panas bumi dan mendukung industri hulu migas tanah air.

 “Di beberapa daerah yang dahulunya dikira tidak memungkinkan memiliki cadangan migas, ternyata seiring perkembangan teknologi dapat ditemukan cadangan minyak,” jelas Musri. 

Ditambahkan oleh Herman Darnel Ibrahim yang juga anggota DEN. Ia berujar, dalam merumuskan KEN harus melihat potensi dari energi tersebut dan kebutuhan untuk dimanfaatkannya. Kemudian DEN harus dibantu oleh berbagai pihak-pihak untuk membuat kebijakan menuju transisi energi.

"Kalau mau menuju transisi energi menuju net zero emission maka bauran energi baru dan terbarukan dimaksimalkan dan energi fosil diminimumkan,” pungkasnya.

Usai acara Webinar yang mengangkat tema Potensi Sumber Daya Migas dan Panas Bumi sebagai Penyangga Energi Masa Depan. DEN bersama Listrik Indonesia akan mengadakan Seminar berkonsep hybrid bertajuk Transisi Energi Menuju Net Zero Emissions dalam rangka memperingati hari pertambangan dan energi nasional, acara akan diselenggarakan pada 28 September 2021.


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button