IIHS 2023, BRIN Petakan Strategi Nasional Hidrogen hingga 2060

IIHS 2023, BRIN Petakan Strategi Nasional Hidrogen hingga 2060
Listrik Indonesia | Indonesia International Hydrogen Summit (IIHS) 2023 resmi digelar di hotel ST Regis, Rabu (21/6/2023). Acara yang akan berlangsung hingga besok, Kamis (22/6/2023) ini berfungsi sebagai platform penting untuk mempercepat adopsi hidrogen di Indonesia dan sekitarnya.

IIHS 2023, yang akan diadakan selama dua hari, akan membahas kemajuan signifikan yang telah dicapai dalam pengembangan pembawa energi utama ini, perkembangan terkini yang mempengaruhi industri dan menyampaikan perspektif baru dan wawasan utama dari pembuat kebijakan, teknolog, dan organisasi di tingkat hidrogen terdepan. Tema dan topik hidrogen akan ditampilkan di seluruh program strategis. Semua aspek kontribusi hidrogen pada bauran energi akan diperiksa lebih detail di dalam teater Hidrogen khusus melalui program komersial dan teknis IIHS.

IIHS 2023 juga menghadirkan pameran, di mana perusahaan peserta pameran akan menampilkan proyek hidrogen, bersama dengan inovator dan pengganggu industri global, serta menunjukkan peran hidrogen dalam mewujudkan komitmen iklim dan mengurangi emisi dengan cepat. Peserta pameran akan memiliki kesempatan untuk memamerkan produk dan teknologi mereka dan mendemonstrasikan cara memperluas skala dan jangkauan solusi energi rendah karbon ini.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN Eniya Listiani Dewi yang menjadi salah satu pembicara dalam acara IIHS 2023 mengatakan, Indonesia perlu komitmen kuat untuk mewujudkan pemanfaatan hidrogen di tanah air. Untuk mendorong hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan kajian terkait peta jalan strategi nasional hidrogen.

"BRIN telah mengidentifikasi kebutuhan hidrogen sampai 2060. Yang paling kita tekankan pada roadmap ini adalah perlunya ekosistem yang mendukung implementasi hidrogen di Indonesia," kata Eniya Listiani Dewi di lokasi, Rabu (21/6/2023).

Selain menjadi pembicara, Eniya juga melakukan soft launching Roadmap Strategi Nasional Hidrogen. Dia mengatakan, roadmap ini memaparkan peta jalan energi hidrogen yang terbagi menjadi tiga segmen, yaitu segmen pilot project atau demo plant, pengembangan dan introduksi ke pasar (market introduction), dan penetrasi pasar, serta efek kepada nilai tambah ekonomi.

"Kedepan, ekonomi kita akan tertopang bukan hanya dari minyak, tapi juga hidrogen. Karena hidrogen bisa dipakai di berbagai sektor, dari sektor pembangkit listrik, industri terutama industri petrokimia, perumahan, hingga transportasi," ungkap Eniya yang juga Presiden Indonesia Fuel Cell Hidrogen Energy ini.

Dengan soft launching ini, lanjut dia, akan dilakukan penyesuaian kembali terhadap roadmap sesuai kebutuhan industri. Dari Kementerian ESDM, menurutnya perlu membuat strategi hidrogen nasional yang juga mencakup tidak hanya potensi hidrogen, namun juga rantai produksi, distribusi, hingga pemanfaatan hidrogen di Indonesia.

Menurutnya, sudah banyak industri yang tertarik berinvestasi di Indonesia, namun mempertanyakan komitmen pemerintah. "Pertemuan ini menjadi trigger untuk mendeklarasikan komitmen berbagai pihak untuk membangun ekosistem hidrogen," ungkapnya.

Lebih lanjut dirinya membeberkan sudah ada 20 project dari industri yang melaksanakan pra-feasibility study teknologi hidrogen, baik di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Sumba, NTT, hingga berikutnya Papua. "Namun saat akan feasibility study, mereka (industri) menanyakan, apakah ada roadmap-nya? Komitmennya? Ini yang perlu kita mulai dari sekarang," tegasnya.

Eniya tidak menampik, untuk mewujudkan pemanfaaatan energi hidrogen memerlukan waktu. Pertama adalah komitmen dari pemerintah, dengan adanya peta jalan. Kemudian diperlukan regulasi, standar yang jelas, termasuk mekanisme insentif.

Jika harus memulai pemanfaatan hidrogen, menurut Eniya yang paling potensial adalah dari sektor industri. Yaitu dengan memproduksi green hydrogen, walaupun masih skala kecil karena harganya masih relatif tinggi.

"Saya yakin titik balik (turning point) harga akan turun pada 2030, namun tidak mungkin kita menunggu untuk memulai memanfaatkan hidrogen sampai 2030, bisa-bisa kita menjadi negara yang tertinggal lagi," katanya.

"Kemudian penangkapan karbon baik dengan metode carbon capture atau filter di industri. Jadi istilah carbon recycling itu penting," tambahnya.

Sektor potensial berikutnya adalah sektor pembangkit listrik, kemudian sektor transportasi, dan rumah tangga.

"Di Jepang saja, perlu waktu 10 hingga 20 tahun untuk masyarakat memahami hidrogen. Jadi, di Indonesia, harus kita mulai dari sekarang," katanya.
Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

Berita Lainnya

Index