Kendaraan Listrik: Solusi Kurangi Impor Puluhan Juta Barel Minyak Per Tahun

Kendaraan Listrik: Solusi Kurangi Impor Puluhan Juta Barel Minyak Per Tahun
Pemerintah target produksi 600 ribu mobil listrik pada tahun 2030 yang akan dimulai pada tahun depan.

Listrik Indonesia | Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Toto Nugroho mengungkapkan jika penggunaan kendaraan listrik semakin masif, Indonesia berpotensi menekan angka impor minyak mentah hingga sekitar 30 juta barel per tahun. Hal tersebut ia ungkapkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Senin (27/11/2023).

"Dari segi pengurangan impor minyak mentah, ini diperkirakan hampir 30 juta barel per tahun, itu bisa kita dapat hemat dengan menggunakan sumber energi elektrik dibandingkan fosil," ungkap Toto.

Toto menjelaskan bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah sepakat untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik hingga tahun 2034. Dalam tahap awal, pada tahun 2024, IBC berencana memproduksi 10 GWh baterai untuk industri otomotif melalui kerjasama dengan Hyundai. 

Pada tahun 2034, proyeksi produksi baterai Indonesia mencapai 50 GWh untuk kendaraan roda dua dan roda empat, serta sistem penyimpanan energi untuk pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT).

Proyeksi kebutuhan baterai di Indonesia pada tahun 2035 mendekati 60 GWh, dengan 400.000 hingga 600.000 unit kendaraan roda empat dan 3 juta hingga 4 juta unit kendaraan roda dua. 

Toto menyoroti bahwa industri baterai memiliki potensi untuk mengurangi emisi karbon sebanyak hampir 9 juta ton per tahun, setara dengan sekitar 8% dari total emisi transportasi nasional.

Selain untuk sektor otomotif, Toto juga menekankan pentingnya pemanfaatan baterai dalam mendukung sistem listrik di Indonesia. Baterai yang diproduksi oleh IBC diharapkan dapat memfasilitasi penyimpanan energi dari pembangkit EBT, membantu mengatasi intermitensi, stabilisasi grid, dan meningkatkan keandalan sumber daya energi nasional.

“Energy storage system merupakan satu hal yang sangat penting untuk kita implementasikan di Indonesia,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengungkapkan sejumlah sektor prioritas Indonesia yang dianggap sebagai peluang investasi. Salah satunya adalah hilirisasi, dengan target produksi 600 ribu mobil listrik pada tahun 2030 yang akan dimulai pada tahun depan. Hal tersebut ia ungkapkan pada agenda APEC CEO Summit, San Fransisco, Amerika Serikat, Kamis, (16/11/2023). 

“Kami menargetkan memproduksi 600 ribu mobil listrik di 2030 yang akan kita mulai tahun depan,” ungkapnya.

Indonesia, sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar, sedang aktif membangun ekosistem kendaraan listrik terintegrasi. Presiden Jokowi menekankan bahwa berbagai insentif dan fasilitas telah disiapkan, dan ia berharap pelaku bisnis di APEC dapat berperan aktif dalam pengembangan sektor ini.

“Beragam insentif dan fasilitas telah disiapkan dan saya berharap pebisnis APEC dapat mengambil bagian besar di sektor ini,” ujarnya.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Listrik

Index

Berita Lainnya

Index