Listrik Indonesia | Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Dyah Roro Esti Widya Putri, B.A., M.Sc mengungkapkan kondisi terkini sektor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia yang mengalami defisit signifikan. Hal tersebut ia ungkapkan dalam acara Anugerah Dewan Energi Nasional (DEN) 2024 yang digelar di Cendrawasih Hall, Jakarta Convention Center, pada Rabu (11/12/2024).
“Sektor Migas kita defisit sebesar 17,39 Miliar USD, defisit sektor migas disebabkan oleh nilai impor migas yang mencapai 30,41 Miliar USD, dan ini lebih tinggi dibanding nilai ekspor migas sebesar 13,02 Miliar USD,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa negara yang menjadi pasar tujuan utama migas asal Indonesia meliputi Singapura, Republik Rakyat Cina (RRC), Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan. Di sisi lain, Singapura dan Malaysia juga merupakan eksportir utama migas ke Indonesia, diikuti oleh Nigeria, Arab Saudi, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Menurut Dyah Roro, posisi Indonesia saat ini sebagai net importir migas membuat ketergantungan terhadap migas impor menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari.
“(impor migas) menjadi tantangan untuk memenuhi sektor energi atau energy demand kita,” katanya.
Selama periode Januari hingga Oktober 2024, impor migas Indonesia naik sebesar 4,97% year-on-year (YoY). Peningkatan impor ini mempertegas tantangan ketahanan energi yang dihadapi, terutama dengan meningkatnya kebutuhan domestik seiring dengan pertumbuhan ekonomi.
Dyah Roro juga memaparkan beberapa tantangan utama dalam mengelola ekspor dan impor energi.
Pertama, masih tingginya ketergantungan pada impor migas yang didorong oleh permintaan energi yang terus meningkat di dalam negeri.
Kedua, adanya perubahan kebijakan energi global yang bergerak menuju energi bersih dan terbarukan.
Ketiga, perlunya pembangunan infrastruktur energi yang merata.
Dan keempat, ketatnya persaingan global dalam pengembangan teknologi energi baru dan terbarukan (EBT).
