PHE Fokus Jaga Produksi di Tengah Tekanan Energi Global

PHE Fokus Jaga Produksi di Tengah Tekanan Energi Global
Direktur Keuangan dan Investasi PHE, Dannif Danusaputro

Listrik Indonesia | Dunia energi sempat dikejutkan oleh langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara terbuka mendukung eksplorasi migas besar-besaran lewat slogan “drill baby drill”. Sikap ini dinilai bertolak belakang dengan tren global menuju transisi energi bersih dan komitmen terhadap Paris Agreement serta target net zero emission.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Keuangan dan Investasi Pertamina Hulu Energi (PHE), Dannif Danusaputro, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut tidak berdampak langsung terhadap operasional PHE. Namun, ada pengaruh tidak langsung yang dirasakan, terutama terkait tekanan harga minyak global akibat peningkatan pasokan.

“Peningkatan pasokan secara global memang menekan harga minyak, dan ini tentu berdampak pada revenue kami. Karena itu, kami tetap fokus menjaga tingkat produksi, namun dengan pendekatan investasi modal yang lebih selektif,” ujar Dannif dalam siaran dialognya, dikutip Selasa (22/4/2025).

Ia menambahkan bahwa seluruh produksi PHE diserap untuk kebutuhan domestik melalui kilang-kilang Pertamina, sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional. “Kondisi ini membuat minat investasi di sektor hulu migas di Indonesia masih cukup baik. Kita masih perlu meningkatkan produksi dalam negeri karena sebagian besar kebutuhan energi kita masih dipenuhi dari impor,” jelasnya.

Tantangan Pendanaan dan Optimisme di Sektor Hulu Migas

Menurut Dannif, sektor hulu migas tetap menawarkan imbal hasil investasi yang kompetitif dibandingkan sektor lain, meskipun pasar modal global tengah menghadapi ketidakpastian. “Walaupun harga minyak berfluktuasi, return dari sektor hulu migas masih menjanjikan,” ucapnya.

Optimisme itu juga ditunjukkan melalui komitmen PHE untuk terus mendukung agenda kemandirian energi yang digaungkan oleh pemerintah. “Kami terus berupaya meningkatkan produksi, membuka lapangan-lapangan baru, serta menjalankan inisiatif seperti reaktivasi struktur dan sumur tua,” tambah Dannif.

Terkait realisasi belanja modal (Capex) tahun 2024, PHE mencatatkan performa yang baik. Bahkan pada kuartal pertama tahun ini, realisasi Capex untuk proyek-proyek anorganik berhasil melampaui target yang telah ditetapkan.

“Kami mencatat pertumbuhan Capex di level low double digit. Fokus kami antara lain pada akuisisi ladang-ladang migas yang telah beroperasi untuk meningkatkan produksi secara cepat,” jelas Dannif.

Peluang di Bisnis Rendah Karbon

Selain fokus pada migas konvensional, PHE juga mulai aktif menjajaki peluang di sektor rendah karbon, khususnya melalui proyek Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS). Inisiatif ini dilakukan bekerja sama dengan perusahaan multinasional yang memiliki teknologi dan pengalaman di bidang tersebut.

“Inisiatif CCS dan CCUS ini sangat strategis, tidak hanya untuk mendukung target pengurangan emisi karbon, tapi juga membuka peluang bisnis baru yang berkelanjutan bagi PHE,” ujarnya.

PHE juga menggandeng negara-negara yang memiliki potensi emisi karbon tinggi dan kemauan untuk membiayai penyimpanan karbon di Indonesia. “Kerja sama ini penting untuk memastikan proyek CCS/CCUS bersifat komersial dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas,” tegas Dannif.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Pertamina

Index

Berita Lainnya

Index