Current Date: Selasa, 16 Desember 2025

Di Balik Panasnya Geothermal Sorik Marapi

Di Balik Panasnya Geothermal Sorik Marapi
Ilustrasi

Listrik Indonesia | Beredar kabar di dunia daring tentang cerita di balik panasnya geothermal Sorik Marapi. Setelah serangkaian kebocoran gas beracun yang menelan korban jiwa dan membuat ratusan warga harus dirawat, kini ancaman baru kembali muncul. Semburan lumpur panas ditemukan memenuhi lahan-lahan pertanian warga di sekitar lokasi pengeboran PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP). 

Peristiwa ini terjadi di Desa Roburan Dolok, Kecamatan Panyabungan Selatan, Mandailing Natal, Sumatra Utara—kurang dari satu kilometer dari wellpad E milik PT SMGP. Wilayah kerja perusahaan ini membentang luas, mencapai 62.900 hektare, meliputi 138 desa di 10 kecamatan. 

Berdasarkan laporan warga yang dihimpun JATAM, tercatat sedikitnya sepuluh titik semburan lumpur panas muncul di kebun-kebun garapan masyarakat. Analisis citra satelit menunjukkan titik-titik ini berjarak sekitar 900 meter dari wellpad E dan hanya sekitar 317 meter dari permukiman yang dihuni 1.931 jiwa. Sementara jarak dari puskesmas terdekat ke lokasi semburan rata-rata hanya 700 meter. 

Warga menceritakan, semburan ini diawali dengan kemunculan rekahan kecil di permukaan tanah yang mengeluarkan asap tipis—fenomena yang sudah mulai terlihat sejak 2021, empat tahun setelah pengeboran pertama dilakukan. Meski telah berkali-kali dilaporkan ke pihak perusahaan, aduan tersebut diabaikan. Kini, rekahan itu berkembang menjadi kawah-kawah aktif yang terus bertambah jumlahnya. 

Sebagian besar kawah muncul di kebun karet, kemiri, dan kakao milik warga. Sedikitnya empat hektare lahan rusak akibat semburan lumpur panas sejak 2024. Bahkan lumpur berbau belerang itu mulai menggenangi lahan sawah produktif yang biasanya digunakan untuk bertani padi. 

Teror yang Terus Berulang 

Semburan lumpur panas bukan kali pertama terjadi. Pada 24 April 2022, insiden serupa menyebabkan semburan lumpur setinggi 30 meter, disertai bau gas menyengat, hingga 21 warga dan seorang bayi terpapar gas beracun dan dilarikan ke RSUD Panyabungan. 

Catatan JATAM mengungkapkan, operasi SMGP sejak awal telah menempatkan warga dalam kondisi darurat. Janji energi bersih dan klaim penggunaan teknologi modern terbantahkan oleh kenyataan di lapangan—rangkaian kejadian berbahaya terus berulang, membahayakan keselamatan masyarakat. 

Berikut rangkaian insiden terkait operasi PT SMGP: 

• 20 Januari 2015: Bentrokan antara warga pro dan kontra proyek panas bumi berujung korban jiwa dan kerusakan properti. 

• 29 September 2018: Dua santri, Irsanul Mahya (14) dan Muhammad Musawi (15), tewas tenggelam di kolam pengeboran tanpa pengaman. 

• 25 Januari 2021: Kebocoran gas H?S menewaskan lima orang, termasuk anak-anak, dan melukai puluhan lainnya. 

• 14 Mei 2021: Ledakan dan kebakaran terjadi di dekat permukiman warga. 

• 6 Maret 2022: Kebocoran gas menyebabkan 58 warga mengalami gejala keracunan. 

• 24 April 2022: Semburan lumpur panas melukai puluhan warga dan merusak lahan pertanian. 

• 16 & 27 September 2022: Dua kali kebocoran gas dalam waktu berdekatan, menyebabkan puluhan warga keracunan. 

• 22 Februari 2023 & 2024: Insiden kebocoran gas berulang, mengakibatkan ratusan warga terpapar dan membutuhkan perawatan medis. 

Ironisnya, meski rentetan insiden ini menelan korban, tindakan tegas terhadap perusahaan sangat minim. Pemerintah hanya sekali menghentikan operasi sementara, yakni pasca kebocoran gas mematikan pada 25 Januari 2021. 

Akibat lemahnya pengawasan, warga Desa Sibanggor Julu dan Sibanggor Tonga kini hidup di tengah ancaman konstan, terkepung oleh fasilitas proyek panas bumi. 

Pertanian dan Kesehatan Terancam 

Selain membahayakan jiwa, aktivitas SMGP juga menghancurkan produktivitas pertanian. Sawah-sawah yang berjarak kurang dari 100 meter dari proyek kini tercemar lumpur dan gas beracun. Tak sedikit warga yang enggan kembali bertani karena khawatir terpapar gas berbahaya. 

Secara perlahan, kesehatan warga memburuk. Keluhan seperti batuk kronis, pilek, demam, hingga sesak napas makin sering terjadi—gejala yang tidak pernah mereka alami sebelum kehadiran proyek panas bumi. 

Desakan Evaluasi Total 

Rangkaian insiden ini memperlihatkan bahwa proyek panas bumi, yang sering digadang-gadang sebagai solusi energi bersih, justru menimbulkan bencana ekologis dan sosial. Warga menjadi korban kebijakan energi yang hanya berfokus pada angka emisi, tanpa mempertimbangkan keselamatan dan kelestarian lingkungan. 

Belum lagi risiko tambahan seperti limbah beracun, gempa bumi, amblesan tanah, dan potensi hujan asam—risiko yang selama ini ditutupi dari publik. 

Kondisi serupa juga terjadi di proyek-proyek geothermal lain di Indonesia, mulai dari Dieng di Jawa Tengah, Lahendong di Tomohon, hingga Ulumbu dan Sokoria di Pulau Flores. 

Menempatkan geothermal sebagai energi hijau tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia dan lingkungan adalah sebuah kekeliruan besar.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Geothermal

Index

Berita Lainnya

Index