Listrik Indonesia | Shell Indonesia bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengadakan Roadshow Shell LiveWire Energy Solutions di Fakultas Teknik UGM, pada pekan ini. Acara bertema “Inovasi Teknologi untuk Energi Terbarukan” ini menghadirkan para pakar teknik industri serta pelaku usaha di bidang transisi energi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan kampus dengan dunia industri, sejalan dengan target transisi energi menuju Net Zero Emission.
Direktur Kemitraan dan Relasi Global UGM, Prof. Dr. Puji Astuti, S.Si., M.Sc., Apt., menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar dan diakui dunia, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
“Transisi energi tidak hanya membuka peluang bisnis, tetapi juga harus berkelanjutan,” ujarnya.
Indonesia menargetkan mencapai Net Zero Emission pada 2050 atau 2060, dengan menghentikan penggunaan batu bara sebagai sumber energi. Guru Besar Teknik Industri UGM, Prof. Ir. Alva Edy Tontowi, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menuturkan bahwa biaya transisi energi ini diperkirakan mencapai dua kali lipat anggaran sektor kesehatan nasional.
“Transisi ini keniscayaan. Pada 2040, 118 proyek pembangkit batu bara akan dihentikan, sementara kebutuhan energi terus meningkat,” jelas Alva.
Menurutnya, inovasi menjadi kunci dalam proses transisi tersebut. Namun, tidak semua inovasi otomatis menghasilkan produk inovatif. Faktor-faktor seperti kualitas produk, kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat, dan spesifikasi teknis yang ideal harus dipertimbangkan.
“Energi akan selalu dibutuhkan. Selain itu, kita menghadapi pertumbuhan populasi dan perubahan kebutuhan di era Society 4.0,” tambahnya.
Alva juga menyoroti tiga sumber energi terbarukan yang menjadi andalan di Indonesia, yaitu tenaga air (hydroelectric), panas bumi (geothermal), dan energi surya. Namun, tantangan besar masih mengadang, terutama dalam menekan biaya produksi energi surya agar dapat lebih terjangkau masyarakat.
“Stabilitas dan aksesibilitas menjadi kunci. Energi terbarukan harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat baik dari sisi infrastruktur maupun biaya,” tegasnya.
Sementara itu, General Manager B2B Lubricant Shell Indonesia, Farishadi Rukandi, mengatakan bahwa transisi energi merupakan bagian tak terpisahkan dari dinamika global. Ia memperkirakan populasi dunia yang kini mencapai 9 miliar jiwa akan terus bertambah hingga 11 miliar, sehingga permintaan energi pun akan meningkat.
“Generasi muda harus mampu membawa inovasi dan menjadi pelopor transisi energi ke depan. Asia, termasuk Indonesia, adalah pasar besar. Riset menjadi faktor kunci untuk melahirkan inovasi,” ungkap Farishadi.
Ia menekankan bahwa perjalanan inovasi menuju produk siap pasar tidaklah mudah. Inovasi, menurutnya, tidak hanya soal menciptakan produk, tetapi juga tentang merancang skema pasar dan membangun kolaborasi yang kuat.
“Sebelum inovasi dipasarkan, diperlukan banyak proses trial and error. Karena itu, sinergi multisektor menjadi penting untuk menghasilkan inovasi yang adaptif dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Kolaborasi Shell dan UGM-ITB Percepat Energi Terbarukan di Indonesia
Shell Gandeng Universitas Percepat Transisi Energi
