Panas Bumi Dipacu, Geo Dipa Targetkan 1 GW

Panas Bumi Dipacu, Geo Dipa Targetkan 1 GW
Geo Dipa Energi Targetkan 1 GW Listrik dari Panas Bumi

Listrik Indonesia | PT Geo Dipa Energi (Persero) menegaskan komitmennya untuk menjadi motor penggerak transisi energi nasional melalui pengembangan panas bumi (geothermal) sebagai sumber energi baseload ramah lingkungan. 

Direktur Utama Geo Dipa Energi, Yudistian Yunis, menyatakan bahwa geothermal dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) merupakan pembangkit paling ideal untuk menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara yang selama ini menjadi andalan utama dalam sistem kelistrikan nasional. 

“Karakteristik geothermal dan PLTA sangat sesuai sebagai baseload, karena mampu menghasilkan listrik dalam jumlah besar dan stabil. Ini menjadi peluang besar dalam skenario pengurangan PLTU yang tinggi karbon,” ujar Yudistian dalam siaran dialog interaktifnya, dikutip Senin (26/5/2025). 

Dalam peta jalan transisi energi yang tertuang dalam Permen ESDM No. 10 Tahun 2025, pemerintah menargetkan penurunan emisi karbon menuju net zero emission pada 2060. Saat ini, sekitar 70% pasokan listrik nasional masih bergantung pada batu bara. Dengan demikian, pembangkit rendah karbon seperti geothermal perlu didorong sebagai substitusi utama. 

Geo Dipa sebagai satu-satunya BUMN yang fokus pada sektor panas bumi mematok target ambisius: mencapai kapasitas terpasang 1 Gigawatt (GW) dalam 10 tahun ke depan. Dua lapangan yang saat ini menjadi fokus utama adalah Dieng dan Patuha, masing-masing ditargetkan mencapai kapasitas 400 Megawatt (MW). Kedua lokasi tersebut kini sedang dalam proses pengembangan unit kedua, yaitu PLTP Dieng 2 dan PLTP Patuha 2, yang ditargetkan selesai paling lambat semester I tahun 2027.

Selain itu, Geo Dipa juga telah menerima penugasan pengembangan dua lapangan baru, yaitu Candi Umbul di Jawa Tengah dan Arjuno-Welirang di Jawa Timur. 

Meski prospeknya besar, pengembangan panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait perizinan lahan dan kepastian investasi. 

“Saat ini, baru sekitar 11% dari potensi panas bumi nasional yang dimanfaatkan, padahal total potensinya mencapai sekitar 23 GW,” jelas Yudistian. 

Ia menambahkan bahwa pemanfaatan lahan di kawasan hutan kerap memerlukan koordinasi yang panjang dengan Kementerian Kehutanan dan pemerintah daerah, terutama soal perubahan peruntukan lahan. 

Meski demikian, Yudistian tetap optimistis. Ia menilai potensi Indonesia sangat besar karena memiliki banyak gunung api yang menjadi sumber panas bumi. Bahkan, sekitar 40% cadangan panas bumi dunia ada di Indonesia. 

“Kalau teknologi pengelolaan panas bumi terus berkembang, bukan tidak mungkin potensi kita bisa lebih dari 24 GW,” ucapnya. 

Lebih lanjut, Yudistian menyambut positif rencana PLN untuk menerbitkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) paling hijau sepanjang sejarah. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius dalam mendorong energi bersih. Ia menekankan pentingnya percepatan dari sisi teknis dan perizinan agar pengembangan panas bumi bisa berjalan optimal. 

“Kalau kita ingin memensiunkan PLTU, maka kita juga harus siapkan penggantinya. Dan geothermal adalah kandidat terkuat,” pungkasnya.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#PT Geo Dipa Energi (Persero)

Index

Berita Lainnya

Index