Menteri Airlangga Beberkan Perkembangan Negosiasi Tarif dengan AS

Menteri Airlangga Beberkan Perkembangan Negosiasi Tarif dengan AS
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Dok: @airlanggahartarto_official)

Listrik Indonesia | Pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa negosiasi tarif dengan Amerika Serikat (AS) tidak akan berlanjut ke putaran kedua sebagaimana sebelumnya direncanakan. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada Selasa (10/06/2025) di Jakarta.

Menurut Airlangga, pihak AS menilai dokumen tambahan yang dikirim Indonesia telah memenuhi ekspektasi mereka. 

“Karena kita sudah kirim dokumen tambahan yang mereka minta, dan pada saat pertemuan dengan Ambassador Jamieson Greer, dari USTR (United States Trade Representative) di sela sidang OECD, mereka menyatakan dokumennya sudah cukup,” ujar Airlangga.

Sebelumnya, negosiasi tarif putaran kedua dijadwalkan berlangsung pada pekan ini. Namun, dengan pernyataan dari pihak AS tersebut, kelanjutan jadwal negosiasi dibatalkan. 

“Sehingga nanti kita lihat perkembangan selanjutnya,” lanjutnya.

Negosiasi tarif antara Indonesia dan AS telah berlangsung sejak April 2025. Salah satu pertemuan penting dalam proses tersebut melibatkan Airlangga dan United States Secretary of Commerce, Howard Lutnick.

Dalam perundingan tersebut, Indonesia menyampaikan sejumlah penawaran, antara lain upaya peningkatan pembelian produk dari AS guna mengurangi defisit perdagangan yang menjadi perhatian pemerintah AS. Produk yang ditawarkan mencakup energi seperti minyak mentah (crude oil), gas elpiji (LPG), dan gasoline, serta komoditas yang dibutuhkan dan belum diproduksi di dalam negeri, seperti kedelai (soybeans), bungkil kedelai (soybean meal), dan gandum (wheat).

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa pemerintah tengah mengevaluasi peningkatan impor energi dari AS, termasuk minyak dan LPG.

“Memang, 54 persen impor LPG kita sudah berasal dari Amerika. Tapi kita juga tahu bahwa kebutuhan minyak kita masih tinggi. Ini yang sedang kami evaluasi untuk menjadi salah satu opsi pembelian energi dari negara lain seperti kawasan Timur Tengah dan Afrika,” ujar Bahlil dalam pernyataan terpisah pada Kamis (10/4/2025).

Saat ini, sekitar 54% kebutuhan LPG nasional dipenuhi dari impor asal AS. Pemerintah menargetkan peningkatan proporsi tersebut menjadi 80–85%. Untuk minyak mentah, kontribusi AS terhadap impor Indonesia masih di bawah 4%, namun ditargetkan meningkat hingga lebih dari 40% dalam waktu dekat. Adapun untuk BBM, volumenya masih relatif kecil dan sedang dibahas secara teknis bersama Pertamina.

Selain isu tarif, Airlangga juga menyampaikan bahwa Indonesia menyatakan kesiapan untuk memperkuat kerja sama di sektor mineral kritis (critical minerals), membuka ruang bagi investasi dari AS, serta menyelesaikan persoalan hambatan non-tarif (Non-Tariff Barrier/NTB) yang menjadi perhatian pelaku usaha AS di Indonesia.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#energi

Index

Berita Lainnya

Index