Listrik Indonesia | Minyak pertama kali ditemukan di Wilayah Kerja (WK) Rokan pada tahun 1941, namun baru diproduksi secara komersial pada 1951. Sejak saat itu, Rokan menjadi salah satu tulang punggung industri migas nasional dan menjadi WK tertua yang masih aktif hingga kini.
1. Era Chevron (1951–2021) Selama lebih dari 80 tahun, WK Rokan dikelola oleh PT Chevron Pacific Indonesia (awalnya Caltex). Di masa kejayaannya, produksi minyak dari lapangan-lapangan seperti Minas dan Duri pernah mencapai hampir 1 juta barel per hari (bph). Hingga 2021, tercatat sebanyak 11,69 miliar barel minyak telah diproduksi.
2. Alih Kelola ke Pertamina (2021) Pada 9 Agustus 2021, pengelolaan WK Rokan resmi beralih dari Chevron ke Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui skema gross split. Pemerintah memberikan hak pengelolaan kepada PHR untuk jangka waktu 20 tahun ke depan. Alih kelola ini ditandai dengan seremoni yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan nasional.
3. Produk dan Kinerja Produksi Setelah alih kelola, WK Rokan tetap menjadi kontributor utama produksi minyak nasional. Pada tahun 2021, kontribusinya mencapai sekitar 24% dari produksi minyak nasional, dengan produksi rata-rata sekitar 160 ribu bph dan 41 MMSCFD gas. Hingga 2023–2024, PHR terus meningkatkan produksi hingga 161 ribu bph melalui pengeboran sumur baru dan revitalisasi sumur lama.
4. Teknologi dan Strategi Pengelolaan PHR mengadopsi berbagai teknologi untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi, di antaranya:
- Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR)
- Steam Flood
- Digitalisasi melalui Integrated Optimization Decision Support Center (IODSC)
- Penerapan Multi-Stage Fracturing (MSF) horizontal, yang telah terbukti meningkatkan produksi signifikan, seperti di lapangan Kotabatak.
5. Infrastruktur dan Lokasi WK Rokan mencakup area sekitar 6.220 km², dengan lebih dari 11.300 sumur aktif. Terdapat 10 lapangan utama seperti Minas, Duri, dan Bangko, serta jaringan pipa migas sepanjang 13.000 km yang menjadi tulang punggung infrastruktur wilayah ini.
6. Cadangan dan Potensi Data awal 2020 mencatat cadangan minyak mencapai 350 juta barel dan cadangan gas lebih dari 9.000 BSCF. Sejak dikelola PHR, tambahan cadangan terus ditemukan melalui program pengeboran dan kerja ulang sumur (workover).
7. Dampak Nasional dan Energi Berkelanjutan WK Rokan memiliki kontribusi penting terhadap ketahanan energi nasional, mendukung target pemerintah mencapai 1 juta bph minyak dan 12 BSCFD gas pada 2030. Selain itu, PHR aktif menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), serta mulai mengembangkan energi baru terbarukan, seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 25 MW.
Kesimpulan Dengan sejarah panjang, potensi besar, dan pengelolaan modern yang mengedepankan efisiensi serta keberlanjutan, WK Rokan tetap menjadi salah satu aset strategis dalam industri migas nasional. Transformasi dari Chevron ke PHR membuktikan bahwa aset migas tua pun masih bisa berkontribusi besar bila dikelola secara tepat.
