Listrik Indonesia | Ketua Asosiasi Energi Angin Indonesia (AEAI), Agung Hermawan menekankan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan pelaku industri dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor energi angin. Hal ini disampaikan dalam agenda penandatanganan komitmen kerja sama antara Pusat Keterampilan Energi Terbarukan (PKET), asosiasi energi, dan universitas mitra di Ambhara Hotel, Jakarta.
Agung menyoroti perlunya penyelarasan antara supply tenaga kerja lulusan universitas dan demand dari perusahaan yang bergerak di bidang energi angin.
“Kami berharap adanya link and match antara supply (universitas) dan demand (perusahaan), dan asosiasi menjadi jembatan untuk menghubungkan kedua hal tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, industri energi angin membutuhkan SDM dengan keterampilan teknis yang sesuai, terutama untuk posisi operator dan teknisi pemeliharaan turbin. Oleh karena itu, AEAI mendorong vendor turbin angin untuk turut serta dalam menyelenggarakan pelatihan teknis secara langsung bagi calon tenaga kerja.
Agung juga menilai bahwa Indonesia memiliki potensi SDM yang mampu bersaing secara global, namun belum mendapat cukup ruang untuk terlibat di dalam negeri.
“Tentunya pekerja Indonesia sangat bisa bersaing di sektor energi angin. Kita terbukti punya beberapa ahli seperti di bidang nuklir yang bekerja di luar negeri. Yang tidak kita punya adalah kesempatan,” ujarnya.
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), pengembangan energi angin di Indonesia diproyeksikan melebihi 7 juta gigawatt (GW), yang berpotensi menciptakan banyak lapangan kerja pada tahap pembangunan dan operasional. Oleh karena itu, AEAI bersama PKET dan pemangku kepentingan lainnya akan merumuskan standar kompetensi (grade) yang dibutuhkan, termasuk pelatihan dan sertifikasi sebagai bagian dari ekosistem peningkatan keterampilan tenaga kerja.
