Current Date: Selasa, 16 Desember 2025

Negosiasi Tarif Impor Belum Usai, Airlangga Temui Perwakilan Dagang AS

Negosiasi Tarif Impor Belum Usai, Airlangga Temui Perwakilan Dagang AS
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Listrik Indonesia | Proses negosiasi tarif perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) masih berlanjut. Setelah Presiden AS Donald Trump menetapkan kebijakan tarif resiprokal sebesar 32% untuk sejumlah produk Indonesia pada 7 Juli 2025, kedua negara memasuki tahap lanjutan dalam perundingan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan pertemuan dengan U.S. Secretary of Commerce Howard Lutnick dan United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer pada Rabu (9/7) di Washington DC. 

Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya diplomasi ekonomi Indonesia untuk menindaklanjuti putaran negosiasi sebelumnya.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga menyampaikan apresiasinya terhadap jalannya perundingan tahap pertama yang berlangsung selama 90 hari. Menurutnya, proses tersebut berlangsung konstruktif dan membuka ruang untuk diskusi yang lebih intensif ke depan.

“Kita sudah memiliki pemahaman yang sama dengan AS terkait progres perundingan. Ke depan, kita akan terus berupaya menuntaskan negosiasi ini dengan prinsip saling menguntungkan,” ujar Airlangga dalam siaran pers, Kamis (10/7/2025).

Selain isu tarif, pembahasan juga mencakup hambatan non-tarif, kerja sama di bidang ekonomi digital, keamanan ekonomi, serta potensi penguatan kerja sama komersial dan investasi antara kedua negara.

Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia dan AS telah sepakat untuk mengintensifkan pembahasan dalam tiga pekan ke depan guna mencapai hasil yang terbaik. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga hubungan dagang yang sudah terjalin baik.

“Kita ingin meningkatkan hubungan komersial Indonesia dengan AS,” tambahnya.

Beberapa langkah konkret untuk mempererat hubungan ekonomi juga telah dilakukan. Dalam beberapa waktu terakhir, perusahaan-perusahaan Indonesia di sektor pertanian dan energi telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan-perusahaan asal AS terkait pembelian produk serta peningkatan kerja sama investasi.

Sektor mineral kritis turut menjadi bagian dari pembahasan. Airlangga menyebut, pihak AS menunjukkan minat untuk memperkuat kemitraan dalam pengolahan komoditas seperti nikel, tembaga, dan kobalt, yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok global energi baru dan terbarukan.

“AS menunjukkan ketertarikan yang kuat untuk memperkuat kemitraan di bidang mineral kritis. Indonesia memiliki cadangan besar nikel, tembaga, dan kobalt, dan kita perlu mengoptimalkan potensi kerja sama pengolahan mineral kritis tersebut,” kata Airlangga.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Industri

Index

Berita Lainnya

Index