Listrik Itu Hak, Bukan Privilege

Listrik Itu Hak, Bukan Privilege
Direktur Distribusi PLN, Arsyadany Ghana Akmalaputri Saat Berbicara di Forum Dialog Energi dan Mineral Festival 2025

Listrik Indonesia | PT PLN (Persero) terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas akses listrik ke seluruh penjuru negeri, termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Langkah ini merupakan bagian dari dukungan terhadap peta jalan Program Listrik Desa (Lisdes) 2025–2029 yang menargetkan elektrifikasi menyeluruh di Indonesia. 

Komitmen ini ditegaskan dalam ajang Energi dan Mineral Festival 2025 yang digelar di Jakarta. Dalam acara tersebut, Koordinator Rencana dan Laporan Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Eri Nurcahyanto, menyampaikan bahwa masih terdapat lebih dari 10 ribu lokasi yang belum tersentuh layanan listrik. 

“Khususnya wilayah timur Indonesia, ini jadi pekerjaan besar kita bersama. Rasio elektrifikasi harus terus didorong, dan Presiden telah menargetkan agar seluruh masyarakat dapat menikmati listrik dalam 4 hingga 5 tahun mendatang,” kata Eri. 

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar penyediaan listrik tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan dan sesuai kebutuhan lokal. Pemerintah pusat, PLN, pemda, serta mitra pembangunan dan swasta disebut harus berjalan seiring dalam mendorong elektrifikasi nasional. 

Dari sisi daerah, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena turut menyampaikan dukungannya terhadap upaya elektrifikasi berbasis energi terbarukan. Ia menyebut NTT memiliki kekayaan sumber energi lokal, mulai dari tenaga angin, panas bumi, hingga potensi arus laut, yang bisa menjadi solusi untuk wilayah dengan tantangan geografis ekstrem. 

“Kami sangat terbantu dengan pengembangan pembangkit dari sumber EBT. Di Ulumbu misalnya, PLN sudah mulai memanfaatkan panas bumi sejak 2012, dan kami berharap pengembangan seperti ini terus ditingkatkan,” ujar Melki. 

PLN sendiri memastikan siap melanjutkan tugas mulia ini. Direktur Distribusi PLN, Arsyadany Ghana Akmalaputri, menegaskan bahwa kehadiran listrik bukan sekadar urusan teknis, tapi menjadi simbol keadilan dan harapan bagi masyarakat. 

“Terang bukan hanya cahaya, tetapi bukti bahwa negara hadir. PLN akan menjalankan mandat ini untuk memastikan seluruh masyarakat, tanpa terkecuali, mendapatkan akses listrik,” jelas Arsyadany. 

Menurutnya, banyak daerah yang belum teraliri listrik berada di lokasi yang sulit dijangkau. Untuk itu, PLN menerapkan pendekatan baru dalam Program Lisdes, yaitu dengan membangun sistem kelistrikan berbasis distributed generation dan smart microgrid dari energi lokal terbarukan. Teknologi ini didukung dengan pemetaan geospasial agar lebih tepat sasaran dan efisien. 

Salah satu solusi yang diterapkan adalah PLTS berbasis baterai, yang dinilai efektif untuk wilayah tanpa jaringan listrik konvensional. Selain itu, PLN juga menggandeng berbagai pihak melalui program strategis seperti Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) dari ESDM dan program Light Up The Dream (LUTD) PLN. 

“Listrik yang hadir ke desa-desa bukan hanya untuk penerangan, tapi juga menjadi penggerak pertumbuhan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi lokal, hingga ketahanan pangan,” tutup Arsyadany.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Arsyadany Ghana Akmalaputri

Index

Berita Lainnya

Index