Listrik Indonesia | Di tengah tantangan alih fungsi lahan dan keterbatasan infrastruktur, Kampung Adat Malasigi di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, berhasil menciptakan kemandirian energi berkat dukungan dari Pertamina. Melalui program Desa Energi Berdikari (DEB), masyarakat adat Moi Kelim kini mulai merasakan manfaat dari pemanfaatan energi terbarukan berbasis tenaga surya.
Kampung yang dihuni oleh 54 warga ini sebelumnya menghadapi banyak kendala dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih dan listrik. “Alih fungsi lahan, serta minimnya akses infrastruktur dasar, menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup masyarakat kami,” ungkap Absalom Dominggus Kalami, salah satu tokoh masyarakat.
Menjawab tantangan tersebut, PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina EP Papua Field menggulirkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang mengedepankan pemanfaatan energi bersih. Instalasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 8,7 kWp serta baterai 10 kWh dibangun untuk mendukung operasional pompa air yang mengalirkan sumber mata air sejauh 800 meter dari titik penyaringan.
“Hasilnya, warga kini bisa mendapatkan air bersih hingga 15 liter setiap dua hari. Ini benar-benar membawa perubahan besar dalam kehidupan kami,” tutur Absalom.
Tak hanya menyediakan akses energi dan air bersih, program DEB juga memberdayakan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Belempe untuk mengelola potensi ekonomi lokal secara terpadu. Aktivitas seperti bird watching dalam ekowisata, perkebunan agroforestry, pembuatan keripik pisang, hingga anyaman noken kini menjadi sumber pendapatan baru masyarakat.
Menurut Absalom, penggunaan PLTS mampu menghemat biaya operasional air bersih hingga Rp36 juta per tahun serta mengurangi emisi karbon sekitar 9 ton CO?eq per tahun. “Selain efisiensi energi, dampak ekonominya juga signifikan. Pendapatan bulanan LPHK Belempe meningkat dari Rp1 juta menjadi Rp4 juta, dan membuka lapangan kerja bagi kelompok rentan,” jelasnya.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, mengatakan bahwa program DEB merupakan bentuk nyata kontribusi Pertamina dalam pemerataan pembangunan energi. “Saat ini ada 173 program DEB yang berjalan di berbagai daerah, dan 70 persen di antaranya berada di luar Pulau Jawa. Ini adalah bentuk komitmen kami menghadirkan energi berkelanjutan hingga ke pelosok negeri,” katanya.
Fadjar menambahkan, dari ratusan program yang berjalan, 45 di antaranya telah mencapai tahap kemandirian. “Khusus di Kampung Adat Malasigi, tingkat kepuasan masyarakat terhadap program ini telah mencapai 90 persen. Ada 40 penerima manfaat langsung dan 200 lainnya menerima manfaat tidak langsung. Program ini juga telah memperoleh delapan publikasi dan enam penghargaan nasional,” ungkapnya.
Upaya ini sejalan dengan visi pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menargetkan kemandirian nasional melalui swasembada pangan, energi, air, serta penguatan ekonomi kreatif dan hijau.
Dari Noken hingga Energi Surya: Cerita Baru dari Malasigi Papua
Program DEB Pertamina di Bumi Cendrawasih