Listrik Indonesia | Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan peningkatan lifting minyak dan gas bumi (migas) menjadi satu juta barel per hari pada 2030. Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menghadiri Rapat Koordinasi Dukungan Bisnis SKK Migas di Kabupaten Bogor, Rabu (3/12).
Pemerintah telah menetapkan target lifting migas dalam APBN 2026 sebesar 610 ribu barel per hari, lebih tinggi dibanding target APBN 2025 yang berada pada angka 605 ribu barel per hari. Target tersebut direncanakan meningkat secara bertahap hingga mencapai satu juta barel per hari pada 2030.
Konsolidasi Antarlembaga Jadi Kunci
Yuliot menegaskan bahwa pencapaian target tersebut memerlukan konsolidasi antara Kementerian ESDM, SKK Migas, serta Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
"Dalam rangka peningkatan produksi di wilayah kerja Bapak Ibu sekalian, jadi perlu dikonsolidasikan. Ya kira-kira pada tahun ini, kira-kira berapa kita melakukan eksplorasi. Kemudian itu ada sumur-sumur yang bisa kita maksimalkan. Dalam hal itu terjadi kendala-kendala ya tentu ini harus dikonsolidasikan dengan SKK Migas," ujarnya.
Ia meminta rapat koordinasi ini mengidentifikasi persoalan yang berpotensi muncul beserta target penyelesaiannya. Beberapa isu yang menjadi perhatian yaitu regulasi, infrastruktur, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta ketersediaan peralatan.
Pemanfaatan 45 Ribu Sumur Rakyat
Pemerintah turut menyiapkan strategi peningkatan lifting melalui pendataan 45 ribu sumur masyarakat yang tersebar di Sumatera Selatan, Aceh, Jambi, Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sumur-sumur tersebut diharapkan memberikan tambahan kontribusi terhadap produksi migas nasional.
Optimalisasi Potensi 128 Cekungan Migas
Peningkatan produksi juga diarahkan dari potensi 128 cekungan migas di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 20 cekungan telah diusahakan sementara 108 lainnya masih menyimpan peluang eksplorasi.
Badan Geologi Kementerian ESDM akan mempercepat ketersediaan data survei dua dimensi, tiga dimensi, serta data eksplorasi lainnya yang diperlukan untuk penawaran wilayah kerja kepada badan usaha.
"Harapannya itu Bapak Ibu sekalian pada saat wilayah kerja ini kita tawarkan kepada badan usaha, baik dalam rangka konsorsium ataupun dalam rangka joint venture itu dipersilahkan. Jadi kami mengharapkan itu nanti terhadap seluruh potensi minyak dan gas di dalam negeri itu bisa kita optimalisasikan dalam rangka ketahanan dan kecukupan energi di dalam negeri," kata Yuliot.
Ketahanan Energi Jadi Prioritas
Di akhir sambutannya, Yuliot menekankan bahwa ketahanan dan swasembada energi menjadi prioritas nasional. Upaya ini, menurutnya, hanya dapat dicapai melalui penguatan sektor hulu migas, termasuk optimalisasi produksi, penegakan tata kelola, pemberdayaan BUMN/D, dan integrasi kebijakan antara pusat dan pelaksanaan di lapangan.

