Listrik Indonesia | Senior Director Oil, Gas, Petrochemical Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Wiko Migantoro, menjelaskan bahwa impor minyak mentah Indonesia saat ini sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah dan Afrika. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Rembuk Energi & Hilirisasi 2025, dikutip pada Jumat (12/12/2025).
“Kebanyakan saat-saat sekarang ini perusahaan yang berada di bawah Danantara Asset Management yaitu Pertamina melakukan importasi crude itu dari kebanyakan negara Afrika dan Middle East,” ujar Wiko.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan impor ini berkaitan dengan pasokan bahan baku kilang dalam negeri yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi nasional.
Volume minyak mentah yang saat ini diproses di kilang Pertamina mencapai sekitar 1 juta barel per hari, dengan sekitar 50.000 barel digunakan untuk kebutuhan internal dan sekitar 855.000 barel per hari diolah menjadi produk BBM.
Selain minyak mentah, Indonesia juga masih bergantung pada impor produk BBM, khususnya untuk jenis bensin seperti Pertalite, Pertamax, hingga Pertamax Turbo. Ketergantungan impor tidak hanya terjadi pada BBM, tetapi juga pada Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Wiko mengungkapkan bahwa kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 8 juta metrik ton per tahun, sementara impor LPG mencapai 6 juta metrik ton.
“Konsumsi LPG di negara kita setahun itu 8 juta metrik ton dan sekarang ini kita mengimpornya 6 juta metrik ton dari luar negeri. Inilah kondisi yang ada di negara kita sekarang ini,” katanya.

