Listrik Indonesia | Kunjungan jajaran Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) ke Hidrogen Center PLN di Senayan menandai langkah serius pemerintah menempatkan hidrogen sebagai bagian penting dari arsitektur energi kota masa depan. Energi hidrogen tak lagi sekadar konsep futuristik, tetapi mulai dipetakan sebagai fondasi jangka panjang dalam pembangunan IKN.
Direktur Transformasi Hijau Otorita IKN, Agus Gunawan, menegaskan bahwa pengembangan hidrogen selaras dengan ambisi besar IKN untuk mencapai net zero emission pada 2045. Seluruh sistem energi di ibu kota baru, kata dia, dirancang berbasis sumber ramah lingkungan dengan emisi serendah mungkin, bahkan mendekati nol.
“Di IKN, energi bukan semata soal kecukupan pasokan, tetapi juga soal komitmen terhadap lingkungan. Hidrogen menjadi salah satu opsi yang paling masuk akal untuk menjawab tantangan itu,” ujar Agus saat meninjau fasilitas Hidrogen Center PLN. Senin, (15/12/2025).
Ia mengungkapkan, dalam Peraturan Presiden tentang Rencana Induk IKN, hidrogen telah ditetapkan sebagai salah satu dari dua cadangan energi utama, selain baterai. Meski pemanfaatannya belum dilakukan dalam waktu dekat, hidrogen diproyeksikan mulai dimaksimalkan setelah 2030 seiring kesiapan teknologi dan ekosistem pendukung.
“Ini menunjukkan arah kebijakan yang jelas. Hidrogen sudah disiapkan tempatnya di IKN, tinggal menunggu momentum implementasi,” kata Agus.
Dari sisi penyedia energi, Vice President Decarbonization PT PLN (Persero) Ricky Cahya Andrian menjelaskan bahwa PLN bersama Nusantara Power telah membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 50 megawatt (MW) di kawasan IKN. Namun, hingga saat ini baru sekitar 15 MW yang terserap untuk kebutuhan eksisting.
“Sisa kapasitas 35 MW ini sebenarnya punya potensi besar. Salah satunya bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk pengembangan hidrogen,” ujar Ricky.
Menurutnya, pemanfaatan kapasitas energi terbarukan yang sudah tersedia akan jauh lebih efisien dibandingkan mencari sumber baru. PLTS tersebut dapat menjadi pintu masuk pengembangan hidrogen hijau di IKN, termasuk untuk kebutuhan pembangkitan, transportasi, dan sektor industri.
Ricky menegaskan, bagi PLN, hidrogen bukan sekadar proyek percontohan. Energi ini dipandang sebagai instrumen strategis dekarbonisasi nasional untuk mendukung target net zero emission Indonesia pada 2060.
“Hidrogen bisa digunakan lintas sektor, dari listrik, transportasi, industri, hingga mengurangi ketergantungan impor BBM. Ini bukan eksperimen, tapi kebutuhan masa depan,” katanya.
PLN bahkan membuka peluang agar IKN berkembang menjadi kota hidrogen pertama di Indonesia, mengikuti jejak sejumlah negara seperti Jepang dan Arab Saudi yang lebih dulu membangun ekosistem hidrogen secara terintegrasi.
“Kalau negara lain bisa memulai lebih awal, tidak ada alasan IKN tidak menjadi simbol transformasi energi bersih Indonesia,” ujar Ricky.
Ke depan, Otorita IKN mendorong kolaborasi yang lebih luas, tidak hanya dengan BUMN seperti PLN dan Pertamina, tetapi juga melibatkan sektor swasta. Upaya ini diharapkan dapat menekan biaya dan mempercepat adopsi hidrogen yang selama ini kerap dipersepsikan mahal dan sulit diterapkan.
Kunjungan ke Hidrogen Center PLN ini menjadi sinyal kuat bahwa IKN tidak ingin sekadar dikenal sebagai pusat pemerintahan baru, melainkan juga sebagai etalase transformasi energi nasional, dengan hidrogen sebagai salah satu pilar utamanya.
Simak video liputan Jelajah Energi terkait kunjungan ini di kanal YouTube Listik Indonesia: https://www.youtube.com/watch?v=y5uhC0GQnvA

