Listrik Indonesia | Percepatan digitalisasi di sektor listrik dan energi memang membawa banyak keuntungan, mulai dari efisiensi operasional hingga kemudahan pengelolaan sistem. Namun di balik itu, muncul risiko baru yang tak bisa diabaikan: ancaman serangan siber terhadap infrastruktur energi nasional.
Penggunaan sistem digital seperti Industrial Control System (ICS) dan Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) kini menjadi tulang punggung pengoperasian pembangkit, transmisi, hingga distribusi listrik. Ketergantungan tinggi pada teknologi ini membuat sektor energi semakin rentan jika keamanan sibernya tidak dibangun secara menyeluruh. Gangguan pada sistem tersebut berpotensi berdampak luas, tidak hanya bagi industri, tetapi juga langsung dirasakan oleh masyarakat.
Direktur Spentera, Royke L. Tobing, menilai sektor listrik dan energi termasuk target strategis dalam peta ancaman siber global. Menurutnya, serangan terhadap sistem kelistrikan dapat memicu efek domino terhadap perekonomian dan bahkan stabilitas nasional.
“Ancaman siber di sektor energi bukan sekadar persoalan teknis. Jika terjadi gangguan, dampaknya bisa menjalar ke aktivitas industri, layanan publik, hingga menurunkan kepercayaan masyarakat,” ujar Royke kepada Listrik Indonesia, Selasa (16/12/2025).
Ia mengungkapkan, masih banyak celah keamanan yang ditemukan dalam sistem kelistrikan. Mulai dari penggunaan perangkat lama yang belum diperbarui, lemahnya enkripsi pada protokol komunikasi, hingga sistem operasional yang terhubung ke internet tanpa perlindungan memadai. Situasi tersebut semakin kompleks dengan masuknya teknologi Internet of Things (IoT) dan akses jarak jauh, yang kerap belum dibarengi dengan standar keamanan yang kuat.
Royke mengingatkan, pengalaman pemadaman listrik di sejumlah wilayah seharusnya menjadi pelajaran penting. Jika gangguan serupa terjadi akibat serangan siber, proses pemulihan bisa jauh lebih rumit dan berdampak luas.
“Ketahanan siber di sektor energi adalah fondasi utama untuk menjaga keberlangsungan layanan publik dan stabilitas nasional,” tegasnya.
Tak hanya soal pasokan listrik, ancaman lain yang patut diwaspadai adalah potensi kebocoran data strategis. Informasi operasional yang bersifat sensitif, jika jatuh ke tangan pihak tak bertanggung jawab, berisiko disalahgunakan dan menimbulkan ancaman jangka panjang bagi keamanan negara.
Untuk itu, Royke mendorong penguatan tata kelola keamanan siber secara menyeluruh. Langkah tersebut mencakup audit rutin terhadap infrastruktur kritis, peningkatan kemampuan deteksi serta respons insiden, hingga pengembangan sumber daya manusia yang memahami karakteristik sistem energi.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor, melibatkan pemerintah, operator energi, regulator, dan komunitas keamanan siber.
“Ancaman siber bersifat multidimensi. Menghadapinya tidak cukup dengan teknologi saja, tetapi juga membutuhkan tata kelola yang kuat, kolaborasi, dan kesiapan SDM,” katanya.
Seiring meningkatnya ketergantungan pada sistem digital, penguatan ketahanan siber di sektor listrik dan energi menjadi langkah strategis untuk memastikan pasokan energi tetap andal, aman, dan berkelanjutan, sekaligus melindungi kepentingan nasional dari ancaman siber yang kian kompleks.
Ancaman Siber Bayangi Keamanan Sektor Listrik dan Energi Nasional
Direktur Spentera, Royke L. Tobing, menilai sektor listrik dan energi termasuk target strategis dalam peta ancaman siber global.

