PJCI Soroti Kesiapan Teknologi, Regulasi, dan Bisnis Smart Grid

PJCI Soroti Kesiapan Teknologi, Regulasi, dan Bisnis Smart Grid
Diskusi Panel PJCI

Listrik Indonesia | Perkumpulan Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) menggelar Diskusi Panel bertajuk Kesempatan dan Tantangan Roadmap dan Outlook Smart Grid Indonesia di Auditorium Pusdiklat PLN, Jakarta Selatan, Selasa (16/12/2025). Forum ini menjadi ruang strategis untuk membedah kesiapan Indonesia dalam mengembangkan sistem kelistrikan cerdas di tengah percepatan digitalisasi dan transisi energi. 

Diskusi dipandu oleh Eddie Widiono, Founder and Chairman of the Supervisory Board PJCI, dengan menghadirkan tiga pembicara kunci, yakni Head of Engineering Research and Innovation Center (ERIC) UGM Prof. Tumiran, Principal Engineering Researcher BRIN Andhika Prastawa, serta VP Decarbonization Business Development and Energy Management PT PLN (Persero) Ricky Cahya Andrian. 

Prof. Tumiran menekankan bahwa smart grid tidak bisa berhenti pada tataran konsep teknologi semata. Menurutnya, integrasi teknologi seperti mikrogrid, kecerdasan buatan (AI), sensor, hingga sistem penyimpanan energi harus dibarengi dengan kebijakan yang jelas dan berkelanjutan. 

“Indonesia jangan hanya menjadi pengguna atau implementator teknologi. Tanpa kebijakan integrasi yang kuat, smart grid hanya akan menjadi wacana,” ujarnya. 

Ia menyoroti pentingnya nilai ekonomi dan kontinuitas dalam pengembangan smart grid, termasuk bagaimana teknologi tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Smart grid, lanjutnya, harus mampu mendukung sistem distribusi yang adaptif, efisien, dan terukur, terutama dengan semakin beragamnya sumber energi terbarukan dan baterai. 

“Semua itu tidak akan berjalan tanpa dukungan algoritma, sistem digital yang andal, serta regulasi yang memungkinkan inovasi,” kata Prof. Tumiran. 

Sementara itu, Andhika Prastawa dari BRIN menyoroti tantangan transisi dari sistem kelistrikan yang terpusat menuju sistem yang lebih terdesentralisasi dan partisipatif. Menurutnya, roadmap smart grid Indonesia perlu menjawab bagaimana sistem yang sebelumnya terintegrasi penuh dapat bertransformasi menjadi sistem yang sebagian terintegrasi dan operatif secara lokal. 

BRIN, kata Andhika, telah mengembangkan simulasi transaksi listrik berbasis peer-to-peer (P2P) atau setiap pihak bisa berperan ganda sebagai penyedia sekaligus pengguna, meski implementasi komersialnya masih terkendala regulasi dan kesiapan infrastruktur. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan data Advanced Metering Infrastructure (AMI) secara optimal, tidak hanya untuk pencatatan konsumsi, tetapi juga sebagai alat pengendali beban dan peningkatan kualitas daya. 

“Smart grid membutuhkan infrastruktur komunikasi yang memadai. Jika jalur datanya hanya dimanfaatkan untuk informasi dasar, investasi tersebut menjadi tidak optimal,” ujarnya. 

Ia juga mengingatkan risiko serangan siber seiring penggunaan protokol internet dan sistem terbuka dalam smart grid. Oleh karena itu, aspek keamanan siber harus menjadi bagian integral dalam perencanaan sistem sejak awal. 

Dari sisi utilitas, Ricky Cahya Andrian menegaskan bahwa tantangan terbesar smart grid bukan pada ketersediaan rencana, melainkan kejelasan model bisnis. Tanpa skema bisnis yang konkret, implementasi smart grid akan sulit berjalan. 

“Smart grid itu kuncinya 4D: desentralisasi, dekarbonisasi, demand response, dan digitalisasi. Semua ini harus bisa diterjemahkan ke dalam bisnis yang feasible,” ujarnya. 

Ricky memaparkan berbagai inisiatif PLN dalam mengembangkan bisnis berbasis desentralisasi, termasuk pemanfaatan energi terbarukan, baterai, serta solusi behind-the-meter. Menurutnya, penyimpanan energi dan sistem off-grid dapat menjadi solusi ketahanan energi di daerah-daerah tertentu. 

Ia juga menyoroti peluang bisnis dari kendaraan listrik, baterai, hingga smart building yang terintegrasi dengan sistem digital. Digitalisasi, kata Ricky, memungkinkan efisiensi energi yang lebih tinggi sekaligus membuka peluang monetisasi baru di sektor kelistrikan. 

“Tanpa digitalisasi, smart grid hanya akan jadi slogan. Tapi dengan digitalisasi yang tepat, kita bisa mempertemukan kebutuhan sistem dengan peluang bisnis,” ujarnya. 

Diskusi panel ini menegaskan bahwa pengembangan smart grid di Indonesia membutuhkan sinergi antara teknologi, regulasi, dan model bisnis. Tanpa ketiganya berjalan seiring, ambisi menuju sistem kelistrikan yang cerdas, efisien, dan berkelanjutan akan sulit terwujud.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#PJCI

Index

Berita Lainnya

Index