Listrik Indonesia | Upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional mulai menunjukkan hasil nyata. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) terpilih periode 2026–2030, Satya Widya Yudha, menegaskan bahwa ketahanan energi Indonesia bertumpu pada empat pilar utama: ketersediaan pasokan, infrastruktur penyaluran, keberlanjutan lingkungan, serta keterjangkauan harga energi bagi masyarakat.
Keempat pilar tersebut, menurut Satya, terus menjadi fokus DEN dalam mengawal arah kebijakan energi nasional. Melalui Kebijakan Energi Nasional (KEN), pemerintah diarahkan tidak hanya menjaga pasokan energi, tetapi juga memastikan transisi menuju energi bersih berjalan konsisten dan terukur.
“Ketahanan energi itu bukan sekadar ada atau tidaknya suplai. Infrastruktur harus siap, pelaksanaannya ramah lingkungan, dan yang tidak kalah penting, harga energi harus terjangkau,” ujar Satya dalam tayangan wawancaranya, dikutip pada Selasa, (23/12/2025).
Ia menjelaskan, KEN yang sebelumnya tertuang dalam PP Nomor 79 Tahun 2014 telah mengalami penyesuaian. Target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) yang semula dipatok 23% pada 2025 direvisi menjadi lebih realistis, yakni pada rentang 17–19%. Revisi ini dilakukan agar kebijakan lebih selaras dengan kondisi aktual sektor energi nasional.
Hingga 2025, capaian bauran EBT dinilai cukup positif. Satya mencatat, kontribusi EBT hampir menyentuh 16% atau sekitar 15,85%. Bahkan pada semester pertama 2025, angkanya sudah mencapai 14,5% dan terus meningkat hingga Oktober.
“Kalau kita lihat tren dari 2020 sampai 2025, capaian tertinggi memang terjadi di tahun ini. Artinya, progres EBT bisa dikatakan cukup signifikan,” ujarnya.
Ke depan, konsistensi kebijakan menjadi kunci. Pemerintah mengandalkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 sebagai peta jalan pembangunan ketenagalistrikan nasional. Dalam dokumen tersebut, sekitar 60% rencana penambahan kapasitas diarahkan pada energi hijau, baik energi baru maupun terbarukan.
Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi salah satu yang paling pesat, disusul panas bumi, hidro, dan mikrohidro. Selain itu, KEN juga mulai memasukkan energi nuklir sebagai sumber energi baru, dengan target beroperasi pada 2032 dengan kapasitas sekitar 500 MW.
“Ini menunjukkan arah yang jelas dan positif, apalagi seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan mencapai 8% pada 2029. Permintaan energi pasti meningkat dan harus diimbangi dengan suplai yang andal,” kata Satya.
Peningkatan kebutuhan listrik juga dipicu oleh tumbuhnya industri berbasis energi intensif, seperti smelter dan pusat data (data center). Sektor-sektor ini membutuhkan pasokan listrik yang stabil, andal, dan berkelanjutan, tanpa gangguan.
“Kita tidak mau kalah dari negara tetangga. Kalau pasokan listrik kita stabil dan hijau, data center tidak harus selalu lari ke luar negeri,” ujarnya.
Selain memperluas pembangkit energi bersih, Satya menekankan pentingnya efisiensi energi. Dengan teknologi yang lebih efisien, kapasitas yang sama dapat menghasilkan produktivitas lebih tinggi dengan konsumsi energi yang lebih rendah.
“Efisiensi energi itu kuncinya. Bukan hanya menambah pembangkit, tapi bagaimana energi digunakan secara cerdas, stabil, dan berjangka panjang,” tutupnya.
