Listrik Indonesia | Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) menyoroti minimnya keterlibatan industri komponen dalam negeri dalam rantai pasok kendaraan listrik, khususnya dari produsen asal China yang masuk ke pasar Indonesia. Padahal, para manufaktur tersebut telah mengantongi berbagai insentif dari pemerintah untuk mengimpor kendaraan listrik secara utuh atau completely built up (CBU).
Sekretaris Jenderal GIAMM, Rachmat Basuki, mengatakan hingga saat ini belum terlihat adanya penyerapan komponen lokal oleh merek-merek mobil listrik China yang mulai masuk ke Indonesia sepanjang 2024 hingga 2025. Kondisi tersebut dinilai tidak sejalan dengan semangat pemberian insentif yang bertujuan mendorong penguatan industri otomotif nasional.
“Faktanya, sampai sekarang pemasok komponen lokal belum dilibatkan. Padahal mereka sudah mendapatkan fasilitas impor dengan komitmen tertentu,” ujar Rachmat, dikutip Selasa, (30/12/2025).
Sejumlah produsen mobil listrik asal China diketahui memperoleh insentif impor CBU dengan syarat melakukan perakitan lokal di Indonesia mulai 2026. Skema ini dirancang sebagai jalan tengah untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik sekaligus memberi waktu bagi produsen menyiapkan fasilitas produksi dalam negeri. Pemerintah sebelumnya mengklaim kebijakan tersebut akan berdampak ganda, yakni mendorong investasi dan membuat harga mobil listrik lebih terjangkau bagi konsumen.
Namun, GIAMM menilai implementasi di lapangan belum sepenuhnya mengarah pada penguatan industri komponen lokal. Rachmat menjelaskan, dalam skema yang berlaku saat ini, proses perakitan lokal mobil listrik impor sudah dihitung setara dengan sekitar 30 persen tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).
“Dengan perhitungan seperti itu, produsen tetap bisa memenuhi syarat TKDN tanpa harus serius melokalisasi komponen,” kata dia.
Menurut GIAMM, kondisi tersebut berpotensi membuat industri komponen dalam negeri hanya menjadi penonton di tengah pertumbuhan pasar kendaraan listrik nasional. Padahal, Indonesia memiliki basis industri alat mobil dan motor yang dinilai mampu memasok berbagai komponen jika diberi ruang dan kepastian permintaan.
GIAMM mendorong agar kebijakan insentif ke depan tidak hanya berfokus pada percepatan penjualan kendaraan listrik, tetapi juga lebih tegas mendorong keterlibatan industri lokal. Tanpa langkah tersebut, tujuan jangka panjang untuk membangun ekosistem kendaraan listrik nasional yang kuat dikhawatirkan sulit tercapai.
