Sawit Jangan Terus Dijadikan Kambing Hitam Lingkungan

Sawit Jangan Terus Dijadikan Kambing Hitam Lingkungan
Biodiesel.

Listrik Indonesia | Anggota Komisi IV DPR, Firman Soebagyo mengungkapkan bahwa pemerintah perlu lebih agresif membangun diplomasi internasional serta melawan disinformasi global terkait industri kelapa sawit Indonesia. Hal tersebut dihimpun dari laman resmi DPR RI, dikutip pada Rabu (07/01/2026).

Firman menekankan pentingnya penyampaian narasi berbasis data dan kepentingan nasional agar Indonesia tidak terus berada dalam posisi defensif dalam menghadapi kritik internasional terhadap komoditas sawit. Menurutnya, pemerintah perlu bersikap lebih tegas dalam membela kepentingan petani dan industri nasional di forum global.

"Kita tidak boleh terus minta dimengerti. Kita harus bicara tegas, berbasis data, dan membela kepentingan petani serta bangsa kita sendiri,” kata Firman.

Firman menyampaikan bahwa industri kelapa sawit Indonesia kerap menjadi sasaran kampanye negatif yang dinilai tidak sepenuhnya dilandasi kepedulian terhadap lingkungan. Ia menilai, sejumlah tudingan tersebut dibungkus oleh kepentingan ekonomi dan praktik proteksionisme dagang negara-negara maju, khususnya di kawasan Eropa.

Menurutnya, tuduhan terhadap sawit sebagai penyebab utama deforestasi, kerusakan lingkungan, hingga pelanggaran hak asasi manusia sering kali disampaikan secara sepihak tanpa mempertimbangkan konteks global maupun perbandingan dengan komoditas nabati lain. 

“Kalau bicara lingkungan, harus adil. Jangan hanya sawit yang disorot, sementara kedelai, bunga matahari, atau rapeseed yang butuh lahan jauh lebih luas justru tidak pernah dipersoalkan,” ujar Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia tersebut.

Firman mengakui bahwa isu keberlanjutan tetap menjadi perhatian penting dalam pengembangan industri sawit. Namun, ia menegaskan bahwa Indonesia telah menerapkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan praktik berkelanjutan, antara lain melalui sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), moratorium izin baru, serta penguatan transparansi tata kelola perkebunan. 

“Indonesia dan Malaysia sudah bergerak ke arah industri sawit berkelanjutan. Ini fakta yang sering diabaikan oleh NGO dan negara-negara pengkritik,” tutur legislator daerah pemilihan Jawa Tengah III itu.

Ia juga menepis anggapan bahwa sawit selalu identik dengan kerusakan lingkungan. Menurut Firman, dengan pengelolaan yang tepat, perkebunan sawit dapat memberikan kontribusi ekologis, termasuk dalam penyerapan karbon dan perbaikan tata guna lahan. 

“Yang harus kita lawan bukan sawitnya, tapi praktik buruknya. Kalau dikelola dengan benar, sawit justru seharusnya bisa menjadi solusi, bukan masalah yang mesti kita khawatirkan,” tegasnya.

Sebagai informasi, biodiesel merupakan bahan bakar nabati yang dihasilkan dari sumber alami seperti minyak kelapa sawit, minyak kedelai, atau minyak jarak. Biodiesel termasuk energi terbarukan yang diproduksi melalui proses transesterifikasi, yakni reaksi kimia yang mengubah minyak nabati menjadi asam lemak metil ester (fatty acid methyl ester/FAME). Biodiesel murni dikenal sebagai B100, yang berarti mengandung 100 persen bahan nabati tanpa campuran bahan bakar fosil.

Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

#Biodiesel

Index

Berita Lainnya

Index