Listrik Indonesia | Perusahaan jasa operasi dan pemeliharaan (operation and maintenance/O&M) di sektor ketenagalistrikan menghadapi tantangan struktural dalam beberapa tahun terakhir. Agenda transisi energi mendorong perubahan portofolio pembangkit dari berbasis fosil menuju energi baru dan terbarukan. Kondisi tersebut menuntut perusahaan O&M untuk beradaptasi melalui efisiensi operasional, diversifikasi layanan, serta penguatan kapabilitas teknis agar tetap relevan di tengah perubahan kebijakan dan arah pembangunan energi nasional.
Direktur Utama PT Nusantara Power Services (PLN NPS), Jakfar Sadiq mengungkapkan bahwa perjalanan bisnis PLN NPS tidak selalu berjalan mulus dan dihadapkan pada berbagai tantangan yang harus dikelola secara hati-hati. Hal tersebut ia ungkapkan dalam wawancara khusus dengan Listrik Indonesia, dikutip pada Rabu (07/01/2026).
Jakfar menjelaskan, dengan pendekatan manajemen yang adaptif, PLN NPS tetap mampu menjaga kinerja perusahaan, termasuk pada masa pandemi Covid-19. Menurut dia, kondisi krisis tersebut tidak berdampak signifikan terhadap keberlangsungan bisnis perusahaan.
“Alhamdulillah saat pandemi bisnis kami tidak terpengaruh signifikan. Bisnis PLN NPS terus tumbuh 160 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” kata Jakfar.
Tantangan bisnis PLN NPS juga muncul lebih awal, yakni pada 2003, ketika isu pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mengemuka. Situasi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran mengingat lebih dari 60 persen pembangkit yang dioperasikan PLN NPS berasal dari PLTU. Namun, menurut Jakfar, dinamika tersebut kemudian berkembang menjadi peluang baru.
“Kekhawatiran tersebut akhirnya tergantikan dengan peluang,” ujar Jakfar.
Ia menjelaskan bahwa melalui program Holding–Subholding (HSH) pada 2023, aset pembangkit dialihkan kepada perusahaan pembangkitan (generation company/Genco), yaitu Indonesia Power dan Nusantara Power. Seiring kebijakan tersebut, penugasan yang diterima PLN NPS justru bertambah dan didominasi oleh pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG).
Dalam konteks transisi energi, PLN NPS juga menyesuaikan strategi bisnisnya. Jakfar menyampaikan bahwa Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang menempatkan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai pembangkit dominan di masa depan direspons perusahaan melalui pengembangan portofolio usaha. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembangunan biomass processing plant di Tarahan, Lampung, pada Oktober 2025. Fasilitas tersebut dilengkapi teknologi pengering (dryer) untuk menurunkan kadar air woodchip dan disebut sebagai salah satu yang pertama di Indonesia.
Memasuki usia ke-25 pada Maret 2026, PLN NPS mencatatkan perjalanan bisnis yang dinilai mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan lingkungan usaha. Jakfar menilai usia tersebut sebagai refleksi dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam menjaga perannya di sektor ketenagalistrikan.
“Selama 25 tahun PLN NPS terus tumbuh, dari sisi pendapatan dan kapasitas pembangkit jasa O&M yang dikelola mencapai lebih dari 7.700 MW di 54 lokasi di Indonesia,” ujarnya.
Dalam menghadapi persaingan industri, Jakfar menyebut PLN NPS menerapkan pendekatan kolaboratif dengan para pelaku usaha lainnya.
“Kami menganggap itu semua sebagai mitra,” kata dia. Menurutnya, dinamika persaingan mendorong perusahaan untuk meningkatkan kualitas layanan, melakukan inovasi, serta memperkuat keunggulan kompetitif. Hingga saat ini, PLN NPS terus menyesuaikan layanan dengan kebutuhan pelanggan dan memperluas sinergi dengan mitra strategis di sektor ketenagalistrikan.

