Listrik Indonesia | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mencatat total pemanfaatan batubara nasional pada tahun 2025 mencapai 790 juta ton. Hal tersebut ia ungkapkan dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Tahun 2025 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Gedung KESDM, dikutip pada Jumat (09/01/2026).
Dari total tersebut, sebanyak 514 juta ton atau 65,1% dialokasikan untuk ekspor. Sementara kebutuhan dalam negeri, baik untuk pembangkit listrik maupun sektor non-kelistrikan, menyerap 254 juta ton atau 32%. Sisanya sebesar 22 juta ton atau 2,8% disiapkan sebagai stok nasional.
Dalam dokumen Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batu Bara Nasional Tahun 2025, Kementerian ESDM melaporkan bahwa cadangan batu bara Indonesia hingga tahun 2024 mencapai 31,95 miliar ton.
Dalam laporan itu dijelaskan bahwa batu bara merupakan salah satu sumber energi yang telah lama dimanfaatkan sebagai bagian dari pembangunan nasional.
Cadangan batu bara dengan kalori rendah menjadi yang paling dominan, yaitu sebesar 24,05 miliar ton. Selanjutnya, cadangan batu bara kalori sedang tercatat sebesar 4,54 miliar ton, sedangkan cadangan kalori tinggi mencapai 3,35 miliar ton.
Selain itu, sumber daya batu bara Indonesia juga cukup besar, dengan total mencapai 97,96 miliar ton. Rinciannya terdiri dari 67,33 miliar ton untuk kalori rendah, 15,52 miliar ton untuk kalori sedang, dan 15,1 miliar ton untuk kalori tinggi.
Pendataan ini mencakup 1.656 lokasi yang tersebar di 23 provinsi di Indonesia. Lokasi-lokasi tersebut mencakup 59 wilayah Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B), 6 wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), 873 Izin Usaha Pertambangan (IUP), 562 lokasi bekas IUP, serta 160 lokasi hasil penyelidikan dari Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi (PSDMBP).

