Listrik Indonesia | Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dr. Anggawira, meluncurkan dua karya tulis terbarunya berjudul Negara, Pasar, dan Keberanian Memilih serta Di Balik Layar Persaingan Usaha: Praktik dan Penegakan di Indonesia. Peluncuran digelar pada Jumat (9/1/2026) di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta.
Kedua buku ini merangkum 34 esai yang ditulis Anggawira sepanjang 2025, merekam kegelisahan, pandangan, dan refleksinya terhadap kebijakan publik serta dinamika sosial-politik Indonesia. Esai-esai tersebut sebelumnya dipublikasikan di berbagai media cetak dan daring, dengan topik yang luas, mulai dari ekonomi, keuangan, energi, pertambangan, dunia usaha, hingga etika pejabat publik di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi opini.
Sebagai Sekretaris Jenderal HIPMI dan Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo), Anggawira mengambil posisi yang tidak ekstrem. Ia tidak serta-merta menolak kebijakan negara, namun juga tidak membenarkannya tanpa kritik. Melalui argumen yang jernih dan bahasa yang mudah dipahami, Anggawira mengajak pembaca melihat persoalan secara lebih utuh, proporsional, dan rasional.
“Meski singkat, setiap esai menghadirkan ruang refleksi tentang relasi negara dan pasar, keberanian dalam memilih sikap, serta pentingnya nalar sehat di tengah kebisingan informasi,” ujar Anggawira.

Salah satu buku yang diluncurkan, Di Balik Layar Persaingan Usaha, secara khusus mengulas pentingnya persaingan usaha yang sehat. Persaingan yang ideal dipahami sebagai proses kompetitif yang menjunjung kejujuran, keterbukaan, dan bebas dari praktik penghambatan hukum, sehingga mampu memberikan pilihan terbaik bagi konsumen sekaligus mendorong inovasi. Buku ini menyajikan pembahasan sistematis dan komprehensif, mulai dari konsep dasar, sejarah dan dinamika persaingan bisnis, hambatan dan risiko, aturan hukum, hingga perbandingan praktik internasional dan tantangan ke depan.
Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Silmy Karim, yang hadir memberikan sambutan, menilai kedua buku tersebut sebagai wujud nyata keberanian intelektual dan dedikasi terhadap penguatan kebijakan publik serta pembangunan ekonomi nasional.
“Gagasan dalam kedua buku ini menegaskan bahwa keberanian dalam memilih dan mengeksekusi kebijakan yang tepat adalah kunci memperkuat daya saing nasional di tengah ketidakpastian global,” ujar Silmy. Menurutnya, perspektif tersebut sangat relevan dengan kebutuhan reformasi kelembagaan dan pelayanan publik yang adaptif, akuntabel, dan berorientasi pada hasil.
Apresiasi juga disampaikan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI, M. Fanshurullah Asa. Ia menilai Anggawira berhasil merangkum isu kompleks seputar praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat ke dalam bahasa yang sederhana dan mudah dicerna.
Fanshurullah menegaskan, hukum persaingan usaha di Indonesia yang berlandaskan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 memiliki tujuan fundamental untuk menciptakan ekosistem bisnis yang adil dan terbuka. Namun dalam praktiknya, pasar kerap diwarnai godaan jalan pintas seperti kartel, pembagian wilayah, hingga penyalahgunaan posisi dominan, bahkan di sektor strategis seperti energi, pangan, dan digital.
“Buku ini mengajak pembaca mengintip ‘dapur’ persaingan usaha, tidak hanya melalui teori, tetapi juga kasus nyata. Mulai dari kartel harga motor skuter, polemik predatory pricing di industri semen, hingga praktik tying dan bundling yang membatasi pilihan konsumen,” jelasnya.
Melalui dua buku ini, Anggawira tidak hanya menawarkan refleksi pemikiran, tetapi juga sumber inspirasi bagi aparatur negara, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan strategis. Pesan yang ditekankan jelas: keberanian berpikir dan bertindak, berpijak pada nalar sehat dan kepentingan jangka panjang nasional, menjadi fondasi penting dalam membangun ekonomi Indonesia yang adil, berdaya saing, dan berkelanjutan.

