Listrik Indonesia | Penutupan sementara kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco memicu gejolak di pasar energi global. Fasilitas berkapasitas 550.000 barel per hari yang berada di pesisir Teluk Persia itu dihentikan operasionalnya setelah serangan drone mengguncang kawasan tersebut di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
Mengutip laporan Bloomberg, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan penghentian operasi dilakukan pada Senin waktu setempat guna menilai dampak kerusakan. Sementara itu, Saudi Press Agency melaporkan kebakaran “terbatas” terjadi akibat puing dari dua drone yang berhasil dicegat sebelum mencapai fasilitas utama. Api disebut telah “segera dipadamkan”.
Hingga kini, Aramco belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.
Kilang Ras Tanura dikenal sebagai salah satu pemasok utama solar (diesel) untuk pasar Eropa. Penutupan fasilitas ini langsung memicu lonjakan harga energi. Kontrak berjangka ICE gasoil dilaporkan melonjak lebih dari 20 persen, kenaikan intraday terbesar sejak Maret 2022. Sementara itu, harga minyak mentah Brent di London naik sekitar 9 persen mendekati US$79 per barel.
Ketegangan kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir pekan. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan ratusan rudal dan drone ke sejumlah negara di kawasan. Serangan terhadap infrastruktur energi dinilai sebagai skenario terburuk bagi pasar global, terutama karena lalu lintas maritim di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia dilaporkan hampir terhenti.
Gangguan juga merembet ke negara Teluk lainnya. QatarEnergy menghentikan produksi gas alam cair (LNG) akibat serangan terhadap fasilitas di Ras Laffan dan Mesaieed. Di Kuwait, pemerintah melaporkan puing rudal jatuh di lokasi salah satu kilang serta pembangkit listrik yang terdampak.
Kilang Ras Tanura merupakan salah satu fasilitas pengolahan terbesar di Arab Saudi yang memproduksi bahan bakar transportasi seperti solar dan dalam jumlah lebih kecil bensin. Di kawasan yang sama terdapat terminal ekspor minyak mentah terbesar Aramco, lengkap dengan tangki penyimpanan, dermaga pelabuhan, serta titik muat lepas pantai.
Meski operasional kilang dihentikan sementara, ekspor minyak mentah dari pulau laut Ras Tanura dan titik tambat tunggal (single-point moorings) di Ju’aymah dilaporkan masih berjalan. Berdasarkan pelacakan kapal tanker yang dikutip Bloomberg, seluruh enam titik tambat tetap beroperasi, dengan dua kapal supertanker dan satu kapal Aframax tengah melakukan pemuatan.
Lonjakan harga energi dan gangguan infrastruktur ini memperbesar risiko volatilitas pasar global dalam jangka pendek, terutama pada komoditas minyak dan produk turunannya. Jika eskalasi berlanjut dan fasilitas energi kembali menjadi sasaran, tekanan terhadap harga serta stabilitas pasokan global diperkirakan akan semakin dalam.