Listrik Indonesia | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa Indonesia mulai melaksanakan impor minyak mentah dari Amerika Serikat untuk menggantikan pasokan dari Timur Tengah yang terganggu akibat konflik geopolitik di kawasan tersebut. Hal tersebut ia ungkapkan di Kantor Kementerian ESDM, dikutip pada Kamis (05/03/2026).
Langkah tersebut diambil setelah jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz mengalami gangguan akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Sebelumnya, militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara dan militer terkoordinasi terhadap berbagai target di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Konflik tersebut berdampak pada penutupan Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia serta sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global.
Bagi Indonesia, jalur tersebut memiliki peran penting dalam rantai pasok energi nasional. Pemerintah mencatat sekitar 19 persen impor minyak Indonesia berasal dari wilayah yang melewati Selat Hormuz. Akibat kondisi tersebut, dua kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) saat ini masih berada di kawasan Teluk Persia.
Bahlil menjelaskan bahwa kapal kargo tersebut sedang bersandar sambil menunggu situasi yang lebih aman di tengah dinamika geopolitik yang berkembang di kawasan tersebut. Pemerintah bersama Pertamina terus memantau kondisi lapangan untuk memastikan keselamatan armada dan kelancaran pasokan energi nasional.
Sebagai langkah penyesuaian, pemerintah mulai melakukan impor minyak mentah dari Amerika Serikat secara bertahap untuk menjaga stabilitas pasokan dalam negeri. Bahlil menjelaskan bahwa proses impor tidak dapat dilakukan sekaligus dalam jumlah besar karena keterbatasan kapasitas penyimpanan domestik.
"Ya bertahap itu kan bertahap, nggak bisa sekaligus satu kali datang karena kita punya daya simpanan tidak cukup. Jadi masalah kita itu sekarang adalah di storage, makanya kami mau buat sekarang storage, kalau tidak begini, kita tidak pernah berpikir," terang Bahlil.
Ia menambahkan bahwa Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah memberikan arahan agar pemerintah segera mempercepat pembangunan tangki penyimpanan bahan bakar minyak (BBM). Pembangunan infrastruktur penyimpanan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dalam menghadapi potensi gangguan pasokan global.
"Kalau kita bicara survival, kita harus mampu betul-betul melihat inti masalah dan segera menyelesaikannya. Kalau enggak kita tergantung terus," tegas Bahlil.
