Listrik Indonesia | PT PLN (Persero) mulai menempatkan hidrogen sebagai salah satu pilar penting dalam upaya transisi energi nasional sekaligus memperkuat kemandirian energi Indonesia. Melalui pengembangan ekosistem hidrogen dari hulu hingga hilir, perusahaan listrik negara itu menilai hidrogen dapat menjadi solusi bagi tantangan dekarbonisasi sekaligus kebutuhan energi yang berkelanjutan.
Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PLN Hartanto Wibowo mengatakan, transformasi sektor energi global saat ini dipengaruhi oleh empat faktor utama yang dikenal sebagai konsep 4D, yakni dekarbonisasi, digitalisasi, desentralisasi, dan deregulasi. Dalam konteks Indonesia, tantangan terbesar adalah menurunkan emisi karbon sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.
Menurut dia, kedua tujuan tersebut membutuhkan sumber energi yang tidak hanya rendah emisi, tetapi juga tersedia di dalam negeri.
“Jika dua tujuan ini digabungkan, maka dibutuhkan sumber energi yang selaras dengan dekarbonisasi namun tersedia di dalam negeri. Hidrogen menjawab kebutuhan itu,” ujar Hartanto kepada Listrik Indonesia.
Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar, mulai dari tenaga surya, angin, air hingga panas bumi. Namun sebagian besar sumber energi tersebut bersifat intermiten atau tidak tersedia sepanjang waktu. Sementara itu, sistem ketenagalistrikan tetap membutuhkan pasokan energi yang stabil dan andal seperti pembangkit berbahan bakar fosil, tetapi tanpa menghasilkan emisi karbon.
Karena itu, hidrogen dinilai dapat menjadi salah satu solusi energi masa depan yang mampu memberikan keandalan pasokan sekaligus mendukung target penurunan emisi.
PLN mulai mengembangkan hidrogen sejak Oktober 2023 dengan memanfaatkan fasilitas Hydrogen Plant yang sudah tersedia di sejumlah pembangkit listrik. Fasilitas tersebut sebelumnya hanya digunakan untuk kebutuhan sistem pendingin generator pembangkit.
Salah satu contoh pemanfaatannya dilakukan di PLTGU Muara Karang, ketika kelebihan kapasitas produksi hidrogen yang sebelumnya tidak digunakan mulai dimanfaatkan untuk pengembangan ekosistem hidrogen. Dari pengalaman tersebut, PLN kemudian mengembangkan produksi hidrogen di 22 lokasi pembangkit.
Saat ini total kapasitas produksi hidrogen yang dihasilkan mencapai sekitar 203 ton per tahun melalui proses elektrolisis yang menggunakan listrik hijau sehingga menghasilkan green hydrogen.
PLN juga mencatat tonggak penting pada Februari 2024 ketika berhasil memproduksi green hydrogen pertama dari pembangkit panas bumi di Asia Tenggara yang berlokasi di PLTP Kamojang, Jawa Barat.
Selain produksi, PLN juga mulai membangun infrastruktur pendukung hidrogen. Salah satunya melalui pembangunan Hydrogen Refueling Station (HRS) pertama di Indonesia yang berlokasi di Senayan, Jakarta.
Menurut Hartanto, kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai stasiun pengisian hidrogen, tetapi juga dikembangkan sebagai Hydrogen Center yang menjadi pusat edukasi, pengembangan komunitas, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang hidrogen.
PLN juga membangun HRS Merah Putih buatan dalam negeri di Rembang serta mengembangkan riset produksi hidrogen berbasis elektroliser melalui proyek H2 WATT di Puslitbang PLN di Duren Tiga, Jakarta.
Saat ini pengembangan hidrogen di PLN masih berada pada tahap proyek percontohan. Berbagai inisiatif yang sedang diuji meliputi pemanfaatan hidrogen pada pembangkit gas, produksi green ammonia hingga cofiring amonia pada PLTU.
Ke depan, PLN menargetkan pembangunan pembangkit listrik berbasis fuel cell hidrogen pertama di Asia Tenggara yang direncanakan berlokasi di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Proyek ini diharapkan menjadi titik awal komersialisasi hidrogen di Indonesia.
“Ketika pembangkit fuel cell hidrogen di Sumba mulai beroperasi, di situlah hidrogen memasuki tahap komersial,” kata Hartanto.
Meski memiliki prospek besar, pengembangan hidrogen masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait biaya produksi yang relatif tinggi serta persoalan penyimpanan dan transportasi. Selain itu, proses konversi listrik menjadi hidrogen dan kembali menjadi listrik juga masih membutuhkan peningkatan efisiensi teknologi.
Hartanto menilai pengalaman global menunjukkan bahwa pengembangan hidrogen umumnya memerlukan dukungan kebijakan dari pemerintah, termasuk dalam bentuk insentif untuk menjembatani selisih antara biaya produksi hidrogen dan kemampuan pasar dalam membayar.
Di luar sektor pembangkitan, hidrogen juga diproyeksikan dapat dimanfaatkan pada sektor transportasi massal seperti bus dan kereta. Teknologi kendaraan listrik berbasis baterai dan kendaraan berbasis hidrogen dinilai dapat saling melengkapi, terutama untuk sektor industri berat dan kendaraan berat yang sulit didekarbonisasi dengan listrik.
PLN menargetkan hidrogen mulai memasuki fase komersial di Indonesia sekitar tahun 2030, apabila berbagai proyek percontohan yang sedang berjalan dapat terealisasi sesuai rencana.
“Hidrogen adalah investasi jangka panjang. Mahal hari ini, tetapi berpotensi menjadi kunci swasembada energi dan pengurangan impor energi,” ujar Hartanto.
Misi Hidrogen PLN Menuju Kemandirian Energi
Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PLN Hartanto Wibowo
