Listrik Indonesia | Energi surya semakin dipandang sebagai salah satu sumber energi terbarukan paling menjanjikan di Indonesia. Selain ramah lingkungan, biaya teknologi yang terus menurun serta kemudahan pemasangan membuat pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kian diminati oleh berbagai kalangan, mulai dari industri hingga rumah tangga.
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari, mengatakan daya tarik utama energi surya saat ini terletak pada aspek ekonomi dan kemudahan implementasi. Dalam beberapa tahun terakhir, harga teknologi panel surya mengalami penurunan signifikan sehingga semakin terjangkau bagi masyarakat.
“Dari sisi pricing sekarang sudah jauh lebih turun dibanding sebelumnya. Selain itu pemasangannya juga relatif mudah. Bahkan masyarakat residensial pun sebenarnya bisa memasang sendiri jika memahami sistemnya,” ujar Mada dalam perbincangan di Podcast Bincang Listrik Indonesia.
Ia menjelaskan, sistem PLTS relatif sederhana dibandingkan teknologi energi terbarukan lainnya. Panel surya hanya membutuhkan komponen utama seperti modul surya, inverter, dan sistem penghubung dengan jaringan listrik atau baterai. Bahkan bagi pengguna yang tidak ingin terhubung dengan jaringan listrik, penggunaan baterai dapat menjadi alternatif.
Kemudahan ini membuat energi surya semakin fleksibel diterapkan di berbagai skala, mulai dari rumah tangga, industri, hingga proyek pembangkit skala besar.
Dalam kebijakan energi nasional terbaru, energi surya memang mendapat porsi signifikan. Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas PLTS sebesar 17,1 gigawatt dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Target tersebut merupakan bagian dari upaya percepatan transisi energi menuju net zero emission pada 2060.
Mada menilai peluang tersebut membuka ruang besar bagi industri PLTS nasional untuk berkembang. Apalagi saat ini AESI telah memiliki sekitar 135 anggota yang berasal dari berbagai sektor dalam ekosistem energi surya, mulai dari produsen panel, pengembang proyek, pemasok teknologi, lembaga keuangan, hingga lembaga sertifikasi.
“Ekosistemnya sudah cukup lengkap. Kami ingin menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pengembangan PLTS di Indonesia sekaligus membantu mencapai target net zero emission,” kata dia.
Dari sisi implementasi, sektor industri saat ini menjadi pengguna terbesar PLTS di Indonesia. Mada menyebut kapasitas PLTS yang terpasang di sektor industri telah menembus lebih dari 1 gigawatt dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, banyak perusahaan mulai memanfaatkan energi surya untuk meningkatkan daya saing produk mereka, terutama di pasar ekspor. Produk yang diproduksi menggunakan energi terbarukan dinilai memiliki nilai tambah di mata konsumen global.
“Beberapa industri yang sudah memasang PLTS bahkan melaporkan peningkatan pesanan karena mereka bisa menunjukkan bahwa produknya dibuat menggunakan energi terbarukan,” ujarnya.
Meski demikian, pengembangan energi surya di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya terkait percepatan regulasi dan kepastian pasar. Jika dibandingkan dengan negara seperti Vietnam atau Thailand, kapasitas PLTS Indonesia masih relatif lebih kecil.
Mada menilai hal itu disebabkan oleh perbedaan kebijakan energi di masing-masing negara. Di Indonesia, sumber energi masih cukup beragam sehingga pengembangan energi terbarukan berjalan secara bertahap.
Namun ia optimistis perkembangan energi surya di Indonesia akan semakin cepat dalam beberapa tahun ke depan, terutama dengan dukungan regulasi yang terus diperbaiki.
Ke depan, AESI juga berencana meningkatkan kampanye publik untuk memperluas pemanfaatan energi surya, termasuk melalui berbagai kegiatan edukasi dan acara komunitas.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang berpartisipasi dalam pengembangan energi bersih di Indonesia.
“Kita ingin semakin banyak orang terlibat. Setiap orang sebenarnya bisa berkontribusi menggunakan energi bersih di kehidupannya,” pungkasnya.
AESI: Energi Surya Kian Murah dan Mudah Dipasang
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari
