Listrik Indonesia | Kesiapan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hybrid berkapasitas 50 megawatt (MW) di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) Ulee Kareng menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem kelistrikan di Aceh sekaligus mendorong percepatan transisi energi bersih di Indonesia.
Direktur Operasi dan Pengembangan Usaha PT PLN Nusa Daya, Reny Wahyu Setiaswan, turun langsung melakukan inspeksi lapangan untuk memastikan kesiapan operasional pembangkit tersebut. Peninjauan mencakup pemeriksaan sistem pembangkit cadangan, integrasi pembangkit surya dengan sistem jaringan, hingga kesiapan infrastruktur pendukung di GITET Ulee Kareng.
Reny mengatakan, pengecekan ini dilakukan untuk memastikan seluruh sistem berfungsi secara optimal dalam menjaga stabilitas pasokan listrik di wilayah Aceh, terutama dalam menghadapi peningkatan kebutuhan listrik.
“Inspeksi ini kami lakukan untuk memastikan seluruh komponen sistem berjalan optimal sehingga mampu menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat Aceh,” ujar Reny dalam dikutip dalam laman instagram resminya @pln_nusadaya, Rabu (11/3/2026).
PLTS hybrid berkapasitas 50 MW tersebut dirancang dengan konsep integrasi antara pembangkit listrik tenaga surya dan sistem pembangkit konvensional yang telah terhubung dalam jaringan kelistrikan. Model hybrid memungkinkan pembangkit memanfaatkan energi matahari pada siang hari, sementara sistem cadangan dari pembangkit lain tetap menjaga stabilitas pasokan listrik ketika produksi surya menurun, seperti pada malam hari atau saat cuaca mendung.
Secara teknis, proyek ini memanfaatkan ribuan modul panel surya yang dipasang di area sekitar gardu induk dan terhubung dengan inverter serta sistem kontrol cerdas untuk mengatur aliran listrik ke jaringan transmisi. Sistem tersebut juga dilengkapi perangkat monitoring digital yang mampu memantau produksi energi secara real time sehingga operator dapat menjaga kestabilan frekuensi dan tegangan pada jaringan.
Pembangunan PLTS hybrid di kawasan GITET Ulee Kareng sendiri merupakan bagian dari strategi PLN untuk memperkuat sistem kelistrikan di wilayah barat Indonesia yang selama ini masih menghadapi tantangan keandalan pasokan dan keterbatasan cadangan daya. Dengan memanfaatkan energi surya yang melimpah di wilayah Aceh, pembangkit ini diharapkan mampu menekan ketergantungan pada pembangkit berbasis bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT).
Selain memperkuat cadangan daya, kehadiran pembangkit pionir ini juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui kualitas tegangan listrik yang lebih stabil. Sistem hybrid memungkinkan pasokan listrik tetap terjaga meskipun terjadi fluktuasi pada salah satu sumber energi.
Reny menegaskan, inovasi ini tidak hanya mendukung agenda transisi energi nasional, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kehadiran pembangkit ini memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat melalui penguatan cadangan daya dan kualitas tegangan yang lebih stabil. Selain mengakselerasi transisi energi hijau, inovasi ini juga menjadi motor penggerak ekonomi daerah dengan menjamin ketersediaan listrik yang andal dan ramah lingkungan,” pungkasnya.
