Listrik Indonesia | Ketahanan energi Indonesia kembali menjadi sorotan. Ketua Indonesia Center for Renewable Studies (ICRES), Surya Dharma, mengingatkan bahwa cadangan energi nasional saat ini masih berada pada level operasional, belum mencapai kategori cadangan strategis seperti yang dimiliki sejumlah negara maju.
Menurutnya, cadangan yang ada saat ini sebagian besar dikelola oleh Pertamina dan sangat bergantung pada pengisian yang berkelanjutan. Kondisi ini membuat Indonesia cukup rentan terhadap gangguan pasokan global. “Jika terjadi disrupsi suplai, terutama dari kawasan Timur Tengah, cadangan kita bisa cepat terkuras,” ujarnya.
Ia menjelaskan, upaya diversifikasi sumber impor energi memang menjadi langkah penting, namun bukan tanpa risiko. Salah satu tantangan utama adalah waktu pengiriman. Pasokan energi dari Timur Tengah umumnya memakan waktu sekitar dua minggu, sementara pengiriman dari kawasan Amerika atau Amerika Latin bisa melampaui satu bulan. Selisih waktu ini dinilai menjadi faktor krusial yang harus diantisipasi dalam perencanaan energi nasional.
Di tengah dinamika global yang semakin tidak pasti, Surya Dharma melihat situasi ini sebagai momentum bagi Indonesia untuk melakukan perubahan signifikan di sektor energi. Ia menilai, selama ini upaya efisiensi energi belum berjalan optimal, salah satunya karena harga energi yang relatif murah akibat subsidi.
“Ketika harga energi naik dan pasokan semakin terbatas, di situlah dorongan untuk berhemat dan beralih ke sumber energi lain menjadi lebih kuat,” jelas Surya dalam siaran wawancaranya, dikutip Sabtu, (4/4/2026).
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya percepatan transisi energi, khususnya melalui pemanfaatan energi surya yang dinilai memiliki potensi besar di Indonesia. Ia mendorong pemerintah untuk memberikan insentif yang lebih konkret guna mempercepat adopsi teknologi seperti panel surya dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai, baik untuk skala industri maupun rumah tangga.
Surya Dharma juga menyoroti capaian energi terbarukan nasional yang dinilai masih tertinggal dari target. Saat ini, kontribusi energi terbarukan baru berada di kisaran 13 persen, jauh dari target 23 persen yang telah ditetapkan pemerintah.
“Ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa lagi berjalan dengan pendekatan biasa. Perlu langkah yang lebih progresif dan terukur,” tegasnya.
Ia menambahkan, transisi energi tidak boleh berhenti pada tataran wacana atau perencanaan semata. Implementasi di lapangan harus segera dipercepat melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga lembaga riset.
Sebagai langkah konkret, Surya Dharma mengusulkan program ambisius berupa pembangunan pembangkit energi terbarukan di setiap desa. Program ini diyakini dapat menjadi fondasi menuju kemandirian energi nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi dari tingkat lokal.
