Listrik Indonesia | Chief Executive Officer (CEO) ACE Energy Service, Steve Youn mengatakan bahwa bahwa proyek yang bertajuk “Construction of a Solar Power Plant for Emission Reduction and Reliability” merupakan upaya perusahaan dalam memperluas akses listrik di Daerah Sulawesi Tengah.
Hal tersebut ia ungkapkan dalam penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, bersama Chief Executive Officer (CEO) ACE Energy Service, Steve Youn untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Penandatangan tersebut dilaksanakan di Redtop Hotel & Convention Center, Jakarta, pada Selasa (7/4/2026).
“Presiden Prabowo mengatakan 20% penduduk Indonesia tidak mendapatkan akses listrik, oleh karena itu proyek ini merupakan realisasi dari harapan Pak Prabowo,” katanya.
Setelah penandatanganan MoU, tahapan selanjutnya adalah pelaksanaan feasibility study (FS) yang diperkirakan memakan waktu sekitar tiga bulan. Berikutnya, akan dilakukan pembahasan dengan PLN Indonesia Power terkait penetapan tarif listrik, dengan target dalam 36 bulan ke depan investasi sudah mulai masuk ke Indonesia.
“Diharapkan dalam 36 bulan ke depan, uang investor sudah masuk ke Indonesia,” ungkapnya.
Dalam presentasinya, Chief Business Advisor ACE Energy Service, Santoso Januwarsono, yang akrab disapa Janu, mengatakan bahwa proyek ini dirancang untuk memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan, baik dari sisi teknis, ekonomi, maupun lingkungan.
Rencananya, proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 60 MW akan dipadukan dengan Battery Energy Storage System (BESS) sebesar 200 MWh.
Janu menjelaskan bahwa sistem yang akan diterapkan merupakan skema hybrid antara PLTS, baterai, dan PLTD. Pada siang hari, seluruh kebutuhan listrik akan disuplai oleh PLTS, dengan sebagian energi disimpan dalam baterai. Saat malam hari, pasokan listrik beralih ke baterai yang mampu bertahan selama 4–5 jam sebelum akhirnya didukung oleh PLTD.
“Sistemnya seperti ini, PLTS tetap berjalan, namun PLTD hanya sekitar 20 persen,” jelasnya.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid Anwar Hafid mengatakan proyek ini memiliki beberapa tujuan, diantaranya untuk memastikan ketercukupan listrik bagi masyarakat serta menjadi langkah awal Pemprov Sulteng mewujudkan kemandirian energi daerah.
“Proyek ini memiliki beberapa tujuan. Satu, untuk ketercukupan listrik bagi masyarakat. Yang kedua, Pemprov Sulteng bekerjasama dengan teman-teman kita ini ingin memulai sebuah langkah besar untuk menjadikan Sulteng berdaya energi,” jelasnya.
Upaya ini juga diarahkan untuk mendorong transisi bertahap dari energi fosil menuju energi terbarukan, sebagaimana ditandai melalui penandatanganan kerja sama tersebut.
Ia pun menyatakan keyakinannya bahwa proyek ini dapat direalisasikan mengingat dukungan dari para pihak yang terlibat.
“Ini lah yang implementasinya, yang hari ini kita tanda tangan. Saya yakin, bos-bos kita ini bukan kaleng-kaleng, jadi saya yakin akan terwujud,” pungkasnya.
