Dirjen Gatrik: Perdagangan Tenaga Listrik Multilateral ASEAN, Indonesia Jadi Salah Satu Kontributor Utama

Dirjen Gatrik: Perdagangan Tenaga Listrik Multilateral ASEAN, Indonesia Jadi Salah Satu Kontributor Utama

Listrik Indonesia | Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jisman Hutajulu, baru-baru ini mengungkapkan tantangan besar dalam upaya menyediakan tenaga listrik yang merata bagi masyarakat Indonesia. Salah satu solusi yang diajukan adalah menghubungkan jaringan listrik atau melakukan interkoneksi hingga pelosok tanah air.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Jisman dalam sambutannya pada acara Silaturahmi Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) 2023 yang digelar di Jakarta pada Senin (29/5).

Menurut Jisman, interkoneksi jaringan tenaga listrik sangatlah penting mengingat sumber-sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) tersebar di seluruh nusantara. Dengan adanya konsep interkoneksi ini, pembangkit listrik berbasis EBT dapat dimanfaatkan secara optimal, sehingga meningkatkan akses masyarakat terhadap energi yang adil dan merata.

Jisman menjelaskan bahwa interkoneksi jaringan tenaga listrik yang baik tidak hanya memberikan dampak positif bagi masyarakat yang tinggal di pelosok saja, tetapi juga dapat membangun hubungan antar negara.

"Kini, di ASEAN telah terbentuk perdagangan tenaga listrik multilateral (Multilateral Power Trade/MPT) yang pertama, yaitu antara Laos sebagai penyedia energi yang mengekspor listrik ke Singapura sebagai konsumen. Selain itu, melalui Thailand dan Malaysia, kedua negara tersebut juga mendapatkan manfaat dari power wheeling," papar Jisman.

Lebih lanjut, Jisman mengungkapkan bahwa di kawasan ASEAN terdapat ASEAN Power Grid (APG), yang mengintegrasikan negara-negara ASEAN yang memiliki sumber energi, terutama energi terbarukan, dengan negara-negara yang membutuhkan energi melalui interkoneksi bilateral.

Hingga saat ini, telah terbentuk perdagangan tenaga listrik bilateral dengan total kapasitas sekitar 7,7 Giga Watt (GW). Selain itu, terdapat pembangunan sekitar 500-600 Mega Watt (MW), serta potensi sebesar 18-21 GW untuk perdagangan tenaga listrik di masa depan. Head of Power Utility and Authority (HAPUA) bersama Proyek APG terus mendorong terbentuknya interkoneksi antara negara-negara anggota ASEAN.
Ikuti ListrikIndonesia di GoogleNews

Berita Lainnya

Index