NEWS
Trending

Elektrifikasi untuk Mengangkat Harkat Hidup Masyarakat

Elektrifikasi untuk Mengangkat Harkat Hidup Masyarakat
Listrik Indonesia | Fatah Triyatna (49), seorang arsitek dan pengembang perumahan di Yogyakarta, berulangkali menjadi saksi terjadinya perubahan kehidupan masyarakat berkat adanya aliran listrik PLN.

Misalnya saja  seperti yang ia saksikan di beberapa daerah pelosok di Kabupaten Gunungkidul tempatnya membuka lokasi perumahan baru. Seperti di Kecamatan Semanu, Karang Rejo, Playen, bahkan Wonosari Kota.
 
Sekumpulan rumah yang dahulunya gulita begitu maghrib, menjadi lebih hidup setelah listrik masuk memberi penerangan. Anak-anak belajar tenang dalam durasi lebih panjang,  warung-warung buka sampai malam, suara siaran televisi terdengar dari hampir setiap rumah. Roda ekonomi pun bergerak lebih cepat dengan munculnya berbagai jenis usaha baru. Aliran listrik telah mengubah kehidupan di desa-desa terpencil itu.

Sementara di Tembilahan, Riau, Ridwan Hartono, pekerja perusahaan swasta di hutan HTI  yang kerap singgah untuk sholat Subuh, juga menjadi saksi geliat kehidupan dan ekonomi masyarakat dengan masuknya listrik. Daerah di pelosok Indragiri Hilir yang biasanya mati begitu Maghrib turun, sejak setahun terakhir hidup sampai malam. Warung-warung buka lebih larut, malam tak lagi sepi karena suara televisi dari berbagai penjuru.  

Suara adzan dari masjid, terdengar semakin jelas dan terasa lebih lapang karena mendapat penerangan listrik PLN sepanjang malam.  Shaf  jamaah sholat Subuh pun bertambah banyak karena penduduk Muslim tidak lagi terhambat oleh gelap untuk beribadah.

Perjalanan Republik ini dalam melistriki negerinya memang sangat panjang.  Hingga tujuh dekade Indonesia merdeka, masih terdapat jutaan rakyat yang belum menikmati listrik.  

Kendati program elektrifikasi yang dicanangkan pemerintah sudah mencapai angka 98,3%, kenyataannya – seperti data yag diriilis Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana, masih ada 1,8 juta Rumah Tangga (RT) yang belum teraliri listrik di seluruh Indonesia.  

Yang mengejutkan, data itu memperlihatkan jumlah wilayah terbanyak yang belum mendapat aliran listrik justru ada Provinsi Jawa Timur. Ada 238.687 rumah tangga yang disebut di sana. Angka itu jauh lebih banyak dibandingkan Papua (7.670 rumah tangga) dan Papua Barat (3.135 rumah tangga). (Sumber: dunia-energi.com, artikel Minggu, 10/03/2019)

Kendati sekilas terlihat aneh karena kejadian terbanyak justru ada di Jawa, menurut I Made Suprateka, Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN, data itu masuk akal karena kenyataan yang ditemukan di lapangan memperlihatkan, masuknya jaringan listik ke suatu desa tidak otomatis menjadikan seluruh warganya langsung bisa menikmati listrik. Selalu ada anomali, terutama terkait masalah daya beli konsumen listrik yang tidak merata, dan masih banyak rumah tangga yang sudah berdiri sendiri namun listriknya masih levering (nyantol) dari rumah tangga induk.

Bagi Made, angka-angka tersebut sekaligus memberi gambaran bahwa PLN masih punya pekerjaan rumah (PR) besar dalam upaya mewujudkan target menuju rasio elektrifikasi sebesar 99,9% yang ditetapkan pemerintah akhir tahun ini.  (AM/Fr)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button