AGENDA MEGA PROJECT NEWS Innovation POWER TECH
Trending

Eropa Berencana Membangun Pembangkit Listrik  di Luar Angkasa

Eropa Berencana Membangun Pembangkit Listrik  di Luar Angkasa
Ilustrasi Pembangkit Listrik Teanaga Surya di Luar Angkasa (Dok ILF Scince)

Listrik Indonesia | Tampaknya para ilmuwan Eropa melalui Badan Antariksa Eropa (ESA) tengah serius membuat pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di luar angkasa.

Alasan ESA akan membangun PLTS di luar angkasa didasari adanya perubahan iklim yang merupakan tantangan terbesar saat ini, jadi ada banyak hal yang dipertaruhkan.

Dari kenaikan suhu global hingga pola cuaca yang bergeser, dampak perubahan iklim sudah dirasakan di seluruh dunia.

 

ESA telah melihat potensi itu dan sekarang mencari cara untuk mendanai proyek-proyek tersebut. Mereka memprediksi sumber daya pertama yang akan kita dapatkan dari luar angkasa adalah energi yang dipancarkan.

 

Opsi ini memiliki banyak keuntungan. Pembangkit listrik tenaga surya berbasis luar angkasa dapat mengorbit menghadap ke arah Matahari dalam 24 jam. Atmosfer Bumi juga menyerap dan memantulkan sebagian cahaya Matahari, sehingga sel surya di atas atmosfer akan menerima lebih banyak sinar Matahari dan menghasilkan lebih banyak energi.

Salah satu tantangan utama yang harus diatasi adalah bagaimana merakit, meluncurkan, dan menerapkan struktur berukuran besar seperti itu. Sebuah PLTS mungkin harus memiliki luas 10 kilometer persegi atau setara dengan 1.400 lapangan sepak bola. Perancang harus menggunakan bahan ringan, mengingat biaya terbesar terletak pada peluncuran ke luar angkasa dengan roket.

Salah satu solusi yang diusulkan adalah mengembangkan ribuan satelit yang lebih kecil yang akan disatukan dan dikonfigurasi untuk membentuk satu generator surya besar.

Sebelumnya pada tahun 2017, para ilmuwan di California Institute of Technology menguraikan desain untuk pembangkit listrik modular, yang terdiri dari ribuan ubin sel surya ultralight. Tim ahli juga mendemonstrasikan ubin prototipe dengan berat hanya 280 gram per meter persegi. Dilansir dari IFL Science pada Sabtu (12/12/2020), tantangan besar lainnya adalah mendapatkan daya yang dikirim kembali ke Bumi.

Baru-baru ini, perkembangan manufaktur, seperti pencetak 3D, juga sedang diselidiki potensinya untuk digunakan ruang angkasa.

 

Di Universitas Liverpool, kami sedang mengeksplorasi teknik manufaktur baru untuk mencetak sel surya yang sangat ringan ke layar surya. Layar surya adalah membran yang dapat dilipat, ringan, dan sangat reflektif yang mampu memanfaatkan efek tekanan radiasi Matahari untuk mendorong pesawat ruang angkasa tanpa bahan bakar.

 

Pihaknya sedang mengeksplorasi cara menyematkan sel surya pada struktur layar untuk membuat pembangkit listrik besar dan bebas bahan bakar. Metode ini memungkinkan untuk membangun pembangkit listrik di luar angkasa. Memang, suatu hari nanti dimungkinkan untuk membuat dan meluncurkan unit di luar angkasa dari Stasiun Luar Angkasa Internasional atau stasiun ruang penelitian di orbit Bulan (lunar gateway station).

 

Di samping itu, para ilmuwan juga mempertimbangkan untuk menggunakan sumber daya dari luar angkasa untuk pengembangan, seperti bahan-bahan yang ditemukan di Bulan.

 

Tapi salah satu tantangan utama ke depan adalah mentransmisikan daya kembali ke Bumi. Rencananya adalah mengubah listrik dari sel surya menjadi gelombang energi dan menggunakan medan elektromagnetik untuk mentransfernya ke antena di permukaan bumi. Antena kemudian akan mengubah gelombang kembali menjadi listrik. (Cr)

 

 

 


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button